Lombok Timur

Kekeringan Mengintai, Pemkab Lombok Timur Siapkan 205 Titik Sumber Air untuk Petani

Lombok Timur (NTBSatu) – Ancaman kemarau panjang mulai menghantui sektor pertanian Lombok Timur. Menjelang puncak musim kering pada Agustus hingga September. Untuk mencegah penurunan produksi hingga risiko gagal panen, pemerintah daerah menyiapkan berbagai langkah mitigasi. Salah satunya melalui pembangunan 205 titik sumber air.

Kepala Dinas Pertanian Lombok Timur, Lalu Fathul Kasturi menjelaskan, meski kondisi kemarau tahun ini diprediksi cukup ekstrem, dampaknya tidak akan terjadi secara merata. Namun, wilayah-wilayah yang selama ini mengalami keterbatasan air, terutama kawasan selatan seperti Jerowaru, sebagian Pringgabaya, dan Sambelia, tetap menjadi fokus penanganan.

“Ancaman terbesar nanti puncaknya bulan Agustus–September. Kalau kita tidak melakukan mitigasi dan tidak adaptif dengan kondisi ini, dampaknya bisa terjadi pengurangan hasil panen, bahkan sampai gagal panen,” ujarnya, kemarin.

IKLAN

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah menyiapkan sejumlah strategi. Mulai dari optimalisasi saluran irigasi, pembangunan embung dengan konsep panen air, hingga irigasi perpompaan yang mampu mengangkat sumber air.

Untuk menghadapi ancaman kekeringan, pemerintah memperkuat konsep panen air dengan mengoptimalkan embung yang masih memiliki cadangan air.

Di tengah ancaman kemarau panjang, petani mengandalkan cadangan air dari embung untuk menjaga tanaman padi dan jagung tetap tumbuh dan berproduksi.

IKLAN

205 Titik Sumber Air

Selain itu, tahun ini Lombok Timur mendapatkan alokasi program penguatan sumber air sebanyak 205 titik dari pemerintah pusat. Melalui program tersebut, pemerintah menghadirkan sumber air dangkal dan dalam. Untuk memastikan setiap titik mampu menyuplai kebutuhan air sedikitnya lima hektare lahan pertanian.

“Ini program nasional yang turun ke daerah. Alhamdulillah Lombok Timur mendapatkan alokasi 205 titik. Harapannya petani tetap bisa menanam meskipun memasuki musim kemarau,” katanya.

Ia menegaskan, ketersediaan air menjadi faktor utama dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Mengingat sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lombok Timur. Karena itu, produksi pertanian tidak boleh berhenti meski menghadapi tantangan perubahan iklim.

“Apapun kondisinya, pertanian harus tetap eksis. Karena sektor ini menjadi penyumbang terbesar ekonomi daerah. Pemerintah sudah melakukan langkah mitigasi agar dampak kemarau bisa ditekan,” tutupnya. (*)

Artikel Terkait