Lombok TengahPendidikan

Guru SMAN 1 Praya Sabet Predikat Penulis Terbaik Lomba Menulis Puisi dan Cerpen Tingkat Nasional

Lombok Tengah (NTBSatu) – Kecintaannya pada dunia literasi sejak masih duduk di bangku sekolah dasar mengantarkan Maimunah, S.Pd, guru Bahasa Inggris SMAN 1 Praya, meraih predikat Penulis Terbaik dalam Lomba Menulis Puisi dan Cerpen Tingkat Nasional bertema Hati yang Setia Tahun 2026.

Prestasi itu tidak datang dalam semalam. Di balik penghargaan tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang telah ia bangun selama bertahun-tahun melalui kebiasaan membaca, menulis, dan mengikuti berbagai ajang kepenulisan.

Dalam kompetisi yang diikuti 731 peserta dari seluruh Indonesia itu, karya Maimunah berhasil menarik perhatian dewan juri hingga mengantarkannya menjadi penulis terbaik.

IKLAN

“Ini bukan semudah membalik telapak tangan. Saya suka membaca dan suka menulis sejak SD. Jadi bukan baru sekarang,” ujarnya kepada NTBSatu, Kamis 16 Juli 2026.

Inspirasi Bisa dari Mana Saja

Baginya, inspirasi bisa lahir dari apa saja. Pemandangan yang dianggap biasa oleh orang lain justru menjadi bahan cerita yang sarat makna di matanya.

“Seorang penulis tidak pernah berhenti menulis selama bumi masih terhampar dan jari masih bisa bicara. Bahkan sehelai daun yang gugur bisa menjadi puisi atau cerpen,” ujarnya.

IKLAN

Semangat belajar juga menjadi kunci yang terus ia pegang. Setiap menemukan informasi tentang pelatihan, workshop, atau lomba menulis, ia selalu mendaftarkan diri untuk memperkaya kemampuan.

Prestasi tahun ini menambah daftar panjang pencapaiannya. Pada 2015, ia masuk dalam 100 guru terbaik nasional melalui karya best practice dan berangkat ke Jakarta. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku antologi puisi.

Ia juga pernah masuk 20 penulis terbaik NTB pascagempa, meraih juara II lomba esai tingkat NTB, serta aktif menulis artikel di media massa dan berbagai buku antologi.

Menurut Maimunah, banyak orang baru mengetahui kiprahnya setelah penghargaan itu ramai di media sosial. Padahal, proses menjadi penulis telah ia jalani jauh sebelum penghargaan tersebut datang.

“Banyak yang mengucapkan selamat karena sekarang ramai di media. Padahal perjalanan menjadi penulis itu sudah saya mulai sejak lama,” ujarnya.

Cerpen yang mengantarkannya meraih predikat penulis terbaik berjudul Bahana yang Tak Pernah Tenggelam. Karya tersebut terinspirasi dari pengalaman hidup yang kemudian ia kembangkan menjadi sebuah cerita fiksi.

“Ini salah satu kisah hidup saya. Sebagian cerita saya angkat dari pengalaman nyata, tetapi saya olah menjadi cerita fiksi,” katanya.

Bagi Maimunah, profesinya sebagai guru justru menjadi sumber inspirasi yang tak pernah habis. Cerita para siswa, dinamika di ruang kelas, hingga pengalaman hidup orang-orang di sekitarnya kerap ia abadikan menjadi tulisan.

Ia percaya usia bukanlah penghalang untuk terus berkarya. Selama masih memiliki semangat belajar dan kepekaan terhadap kehidupan, selalu ada cerita yang layak ditulis.

“Umur boleh tua, tetapi karya tidak pernah tua,” tutupnya. (*)

Artikel Terkait