KesehatanLombok Tengah

28 Kasus HIV Ditemukan di Lombok Tengah, LSL Jadi Kelompok Terbanyak

Lombok Tengah (NTBSatu) – Dinas Kesehatan Lombok Tengah mencatat 28 kasus positif HIV sepanjang Januari hingga Juli 2026. Dari jumlah tersebut, kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) menjadi kelompok dengan temuan terbanyak.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P3KL) Dinas Kesehatan Lombok Tengah, Putrawangsa, mengatakan pihaknya menemukan sekitar tujuh kasus HIV pada kelompok LSL dari total 28 kasus tersebut.

“Angka HIV kita sampai dengan hari ini yang paling tinggi kasusnya itu LSL, laki-laki seks laki-laki,” kata Putrawangsa kepada NTBSatu, Selasa 18 Agustus 2026.

IKLAN

Selain LSL, temuan HIV juga berasal dari sejumlah kelompok lain. Di antaranya ibu rumah tangga, laki-laki, pekerja seks komersial (PSK), hingga kelompok remaja.

Putrawangsa mengatakan proses menemukan kasus HIV tidak selalu mudah. Petugas perlu melakukan skrining untuk menjangkau kelompok yang berisiko, termasuk populasi kunci.

Meski begitu, upaya skrining terus berjalan. Hingga memasuki Agustus 2026, Dinas Kesehatan Lombok Tengah telah memeriksa sekitar 22 ribu orang.

IKLAN

“Skrining kita kalau kita lihat, hampir bulan Agustus ini sudah cukup bagus. Sekitar 22.000 orang sudah terperiksa,” ujarnya.

Skrining tersebut juga menjadi bagian dari upaya triple eliminasi untuk HIV dan hepatitis, termasuk pemeriksaan terhadap ibu hamil.

Putrawangsa menegaskan petugas kesehatan tetap menjaga kerahasiaan identitas setiap pasien HIV. Informasi mengenai hasil pemeriksaan hanya disampaikan kepada pasien dan tenaga kesehatan yang menangani.

Ia mengingatkan stigma terhadap penderita HIV masih menjadi persoalan. Karena itu, penanganan tidak hanya berfokus pada pemeriksaan, tetapi juga memastikan pasien mendapat terapi serta edukasi yang tepat.

“Yang tahu hanya pasiennya sendiri sama petugas kesehatannya, karena dia pakai kerahasiaan di pemeriksaannya,” jelasnya.

TBC Masih Jadi Perhatian

Selain HIV, Putrawangsa menyebut tuberkulosis (TBC) sebagai salah satu penyakit menular yang perlu mendapat perhatian serius di Lombok Tengah.

Menurutnya, tren kasus TB dalam tiga tahun terakhir menunjukkan perlunya intervensi berkelanjutan. Penyakit tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga kondisi ekonomi dan sosial pasien.

Penderita TB, kata dia, dapat mengalami penurunan kemampuan bekerja akibat kondisi tubuh yang lemah. Stigma masyarakat terhadap penderita TB juga masih menjadi tantangan dalam penanganannya.

Sementara untuk demam berdarah dengue (DBD), hingga Juli 2026 tercatat sekitar 170 suspek dan 150 kasus positif.

Kasus DBD cenderung meningkat memasuki awal musim penghujan, terutama sekitar Oktober dan November. Pada 2025, wilayah dengan temuan kasus DBD cukup tinggi antara lain Kecamatan Praya Timur dan Pujut.

“Nanti masuk di awal musim penghujan, kalau Oktober, November itu baru dia naik trennya. Di setiap tahunnya juga begitu,” kata Putrawangsa.

Putrawangsa memastikan hingga saat ini belum ada pasien DBD di Lombok Tengah yang meninggal. Ia mengingatkan masyarakat tetap menjaga kebersihan lingkungan dan menjalankan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk mencegah peningkatan kasus. (*)

Artikel Terkait