Tak Sanggup Beli Pertamax, Warga Lombok Tengah Terpaksa Antre Pertalite Berjam-jam
Mataram (NTBSatu) – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax, memicu migrasi massal warga Lombok Tengah.
Berdasarkan pengamatan NTBSatu, Sabtu, 13 Juni 2026, menunjukkan warga yang terpukul karena lonjakan harga, kini beralih memburu Pertalite.
Akibatnya, antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), terutama di Kota Praya Lombok Tengah, mengular jauh lebih panjang dari biasanya.
Salah seorang warga yang mengantre di SPBU Praya bernama Rama, mengungkapkan keluhannya saat NTBSatu menanyakan terkait fenomena ini. “Stok Pertalite belum sampai sore saja sudah habis,” ujarnya kepada NTBSatu, Sabtu, 13 Juni 2026.
Dari pantauan lapangan, kepadatan ekstrem ini tampak memadati area masuk hingga ke dalam halaman SPBU. Puluhan pengendara sepeda motor membentuk barisan rapat di bawah terik matahari. Bahkan ekor antrean meluap hingga memakan bahu jalan raya di luar pagar.
Kendaraan roda empat juga tampak terpaksa merayap perlahan untuk masuk ke jalur pengisian. Pemandangan yang sama juga terlihat di beberapa SPBU di Kota Praya.
Dari pemantauan langsung, beberapa titik lainnya juga terlihat mengalami kemacetan. Hal ini karena antrean yang mengunci jalur lalu lintas utama.
Berebut Pasokan yang Cepat Habis
Pantauan NTBSatu menunjukkan, padatnya pembeli ini sudah berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Pembeli tampak masih berebut untuk mendapat stok BBM jenis Pertalite yang masih tersedia.
Karena hampir seluruh pengendara kendaraan bermotor beralih ke bensin bersubsidi, volume kendaraan yang datang ke SPBU melonjak drastis melebihi kapasitas normal harian.
Pasokan BBM jenis Pertalite yang baru tiba dari depot Pertamina langsung habis oleh konsumen tidak lebih dari 24 jam.
Akibat skema migrasi massal ini, operator SPBU tampak lebih sering memasang pengumuman bahwa Pertalite sedang kosong atau dalam perjalanan.
Keadaan ini memicu kepanikan di kalangan masyarakat, terutama pelaku usaha kecil, sopir angkutan umum, hingga pekerja komuter. Mereka merupakan konsumen yang sangat bergantung pada kestabilan harga dan stok Pertalite untuk menekan biaya operasionalnya.
Enggan Beralih ke Pertamax yang Mahal
Selain itu, faktor ekonomi merupakan alasan tunggal mengapa masyarakat memilih bertahan dalam antrean yang melelahkan daripada beralih ke Pertamax.
Selisih harga yang semakin lebar antara Pertalite dan Pertamax membuat daya beli masyarakat langsung anjlok. Terutama bagi kelas menengah ke bawah di Lombok Tengah.
Sebagian besar warga memilih untuk mematikan mesin kendaraan mereka di tengah antrean, demi menghemat sisa bahan bakar di tangki. Rama juga mengaku bingung karena tidak memiliki pilihan lain yang ramah di kantong.
Oleh karena itu, Rama menegaskan merasa lebih baik kehilangan waktu berjam-jam untuk mengantre di jalur Pertalite. Ia mengaku, tidak sanggup membeli Pertamax yang harganya sudah di luar jangkauan dompet.
“Kami tidak mampu kalau harus beli Pertamax,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lombok Tengah, Lalu Setiawan mengaku, stok BBM masih aman di wilayah tersebut.
“Terkait suplai BBM ke SPBU, sesuai informasi dari pihak Pertamina, tidak ada kendala. Itu baik yang subsidi maupun yang tidak,” ujarnya kepada NTBSatu, Sabtu, 13 Juni 2026. (*)




