Krisis Air Bersih Melanda Senggigi, Warga Antre hingga Tengah Malam
Lombok Barat (NTBSatu) – Krisis air bersih menghantui warga Dusun Batu Bolong Griya, Desa Senggigi, Lombok Barat. Sekitar 250 kepala keluarga terdampak kekurangan air selama musim kemarau.
Warga bahkan harus mengantre sejak subuh hingga tengah malam untuk mendapatkan air dari sumur bor masjid.
Ketua Remaja Batu Bolong Griya, Badaruddin, mengatakan warga mengandalkan sumur bor di masjid. Namun, kapasitas sumur bor tersebut terbatas dan membutuhkan biaya listrik.
“250 KK yang terdampak di Dusun Batu bolong. Untuk sementara waktu ini ada sumur bor di masjid, itu pun kita antre caranya karena sumur bor itu butuh biaya untuk pembelian pulsa listrik untuk naikkan air,” ujar Badaruddin kepada NTBSatu, Minggu, 13 September 2026.
Badaruddin mengatakan, warga mulai mengantre mengambil air sejak pukul 05.00 Wita. Antrean berlangsung hingga malam hari karena warga mengambil air secara bergantian.
“Cuma antreannya sampai malam, mulai dari jam 5 subuh itu mulai warga sibuk ngantre di masjid,” ujarnya.
Warga tidak menetapkan tarif pengambilan air dari sumur bor tersebut. Mereka hanya memberikan sumbangan sukarela untuk membeli pulsa listrik.
“Enggak sih warga bayar, seikhlasnya untuk beli pulsa listrik itu bergantian. Jadi enggak harus bayar per ember atau apa gitu,” katanya.
Kondisi tersebut menunjukkan keterbatasan akses air bersih masih menjadi persoalan bagi warga kawasan perbukitan.
Badaruddin mengatakan, warga juga meminta bantuan air dari rumah-rumah yang memiliki sumur bor. Sebagian warga bahkan meminta pasokan air dari kawasan perumahan BTN.
“Harapannya untuk sekarang ini kita minta sumber air bersih dari pemerintah, dari BPBD atau Dinsos, kalau bisa setiap hari itu dianterin kita air,” ujarnya.
Menurutnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pernah mengirimkan bantuan air sebanyak dua kali. Setiap pengiriman membawa satu tangki air. Namun, bantuan tersebut belum menjangkau seluruh warga terdampak.
“Sudah sekitar Seminggu lebih yang lalu, itu semua belum bisa dapat. Setengahnya pun enggak sampe masyarakat,” lanjutnya.
Sumur Tradisional Mengering
Kepala Desa Senggigi, Mastur mengatakan, kawasan Batu Bolong Dalem menjadi salah satu wilayah yang kerap mengalami kekurangan air. Menurutnya, kondisi geografis wilayah tersebut memperparah persoalan saat musim kemarau.
“Iya memang di Dusun Batu bolong dalem Desa Batu Layar Barat Kecamatan Batu Layar ya itu yang memang sangat parah sekali tidak ada sumur bor pun tidak ada,” kata Mastur kepada NTBSatu, Minggu, 13 September 2026.
Ia menjelaskan, sebagian warga masih mengandalkan sumur gali tradisional. Saat kemarau panjang, sumber air tersebut ikut mengering.
“Kalau masih banyak yang mengandalkan sumur tradisional sumur gali ketika musim kemarau kayak gini itu ya otomatis umurnya kering,” ujarnya.
Mastur mengatakan, beberapa dusun yang memiliki sumur bor relatif lebih aman dari persoalan pasokan air. Namun, ia mengakui sejumlah wilayah masih membutuhkan pembangunan sumur bor baru.
Di sisi lain, Mastur menilai krisis air lebih banyak dirasakan masyarakat yang tinggal di kawasan pedalaman. Sementara itu, hotel dan vila di sekitar kawasan Senggigi umumnya memiliki sumur bor sendiri.
“Kalau masalah berdampak ke pariwisata karena kan setiap Hotel itu punya sumur bor jadinya nggak begitulah dampaknya,” kata Mastur.
Ia mengatakan, pemerintah desa telah berkoordinasi untuk mengusulkan bantuan pembangunan sumur bor. Mastur berharap pemerintah segera menindaklanjuti kebutuhan tersebut. (*)




