DLH Lobar Bantah Asap TPST Senteluk Sebabkan Anak Warga Sesak Napas
Lombok Barat (NTBSatu) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat (Lobar) meminta warga menunggu hasil uji emisi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Senteluk. Pernyataan itu muncul setelah warga Perumahan Griya Asri mengaitkan asap TPST dengan gangguan pernapasan anak.
Kepala DLH Lobar, M. Busyairi, belum memastikan sumber asap yang warga keluhkan. Ia mengatakan hasil uji emisi baru akan keluar sekitar dua pekan mendatang.
“Nanti saja setelah hasil uji emisi keluar,” kata Busyairi kepada NTBSatu, Selasa, 18 Agustus 2026.
Busyairi juga menyebut sumber asap lain yang berada di sekitar permukiman. Menurutnya, warga sekitar sedang memasuki musim panen dan sebagian membakar jerami. Ia juga menerima informasi mengenai warga yang membakar sampah di sekitar TPST.
“Di sekitar sana juga kan musim panen, banyak yang bakar jerami dan warga yang bakar sampah,” ujarnya.
DLH Bantah Ada Pembakaran Malam Hari
Busyairi membantah aktivitas pembakaran sampah di TPST berlangsung hingga malam. Ia memastikan, mesin pembakaran tidak beroperasi pada malam hari.
Pernyataan itu sekaligus menanggapi keluhan warga yang mencium bau asap pada malam hari. Busyairi mengatakan, warga sempat melaporkan bau seperti ban terbakar. Padahal, TPST tidak beroperasi pada malam hari.
“Warga yang datang komplain Senin lalu bilang sampai sekitar jam satu masih tercium bau ban dibakar,” katanya.
Ia menegaskan, pembakaran di TPST tidak berlangsung pada waktu tersebut. Karena itu, DLH meminta hasil pengujian menjadi dasar untuk menentukan sumber pencemaran. Busyairi menyebut pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan dari tim penguji.
“Hasil uji emisi baru keluar dua minggu,” ujarnya.
Keluhan Warga Belum Terjawab
Sebelumnya, warga RT 04 Perumahan Griya Asri mengeluhkan asap dari TPST Senteluk. Jarak fasilitas pengolahan sampah tersebut hanya sekitar 30 meter dari rumah warga.
Salah seorang warga, Baiq Nilawati Dewi, mengaku asap masuk ke rumahnya setiap pagi. Ia juga mengklaim kondisi tersebut mengganggu kesehatan anaknya yang berusia 13 tahun.
Dewi menyebut anaknya mengalami sesak, napas pendek, dan batuk berulang. Ia mengaku sudah membawa anaknya menjalani pemeriksaan medis. Namun, warga belum memiliki hasil pengujian yang membuktikan hubungan asap TPST dengan keluhan tersebut.
Di sisi lain, DLH sebelumnya melakukan pengujian terhadap emisi dan kondisi lingkungan sekitar TPST. Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup melakukan pengujian tersebut. Pengujian mencakup sejumlah indikator, termasuk asap, air, dan udara.
Hasil pengujian kini menjadi penentu penting dalam polemik tersebut. Jika hasil pengujian menunjukkan pelanggaran, pemerintah memiliki dasar untuk mengevaluasi operasional TPST. Sebaliknya, jika hasilnya memenuhi standar, DLH perlu menjelaskan sumber asap lain secara terbuka. (*)




