Ekonomi BisnisLombok Timur

Harga Daging Sapi di Lombok Timur Tembus Rp150 Ribu Per Kilogram

Lombok Timur (NTBSatu) – Harga sapi hidup di Lombok Timur kini mencapai Rp65 ribu per kilogram. Kenaikan harga sapi ikut mendorong harga daging sapi di tingkat pengecer hingga Rp150 ribu per kilogram.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lombok Timur, Masyhur mengatakan, tingginya harga sapi terjadi karena kebutuhan dari berbagai daerah terus meningkat.

“Sapi di Lombok Timur ini bukan untuk orang Lombok Timur saja. Sapi besar di Pulau Lombok itu banyak dari Lombok Timur,” kata Masyhur, Selasa, 29 September 2026.

IKLAN

Menurutnya, pedagang dari Lombok Tengah, Lombok Barat hingga Lombok Utara ikut mencari sapi potong di Lombok Timur. Kondisi itu memicu persaingan pembelian antardaerah.

Persaingan tersebut kemudian ikut mengerek harga sapi di tingkat peternak. Saat ini, harga sapi hidup mencapai Rp65 ribu per kilogram.

Kenaikan harga sapi hidup juga berdampak pada harga daging sapi. Di tingkat pengecer, harga daging kini mencapai Rp150 ribu per kilogram.

IKLAN

“Kalau dulu kita patok Rp54 ribu per kilogram hidup. Harga maksimalnya di tingkat jagal itu Rp110 ribu dan Rp120 di tingkat pengecer,” ujarnya.

Masyhur mengatakan, tingginya harga sapi tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan masyarakat Lombok Timur. Posisi Lombok Timur sebagai salah satu daerah pemasok sapi di Pulau Lombok membuat permintaan dari luar daerah ikut memengaruhi harga.

Pemprov Diminta Atur Perdagangan Sapi

Karena itu, dia meminta Pemerintah Provinsi NTB mempertemukan pelaku perdagangan sapi dari seluruh kabupaten dan kota.

Menurutnya, pemerintah perlu mengatur pola perdagangan sapi agar keseimbangan pasokan dan permintaan tetap terjaga. Ia menilai, pengaturan pembelian dapat menjadi salah satu cara untuk menekan harga ketika kenaikan berlangsung terlalu tinggi.

“Kalau menurunkan harga itu gampang. Dua minggu saja jagal tidak usah beli, harga sapi hidup akan turun,” katanya.

Namun, Masyhur menilai langkah tersebut harus melibatkan seluruh daerah. Jika hanya Lombok Timur yang mengurangi pembelian, pedagang dari daerah lain tetap memiliki kesempatan membeli sapi.

“Bukan hanya Lombok Timur yang berhenti membeli. Lombok Tengah, Lombok Barat, KLU juga harus duduk bersama,” katanya.

Masyhur menyebut, kebutuhan sapi di Pulau Lombok cukup tinggi. Lombok Timur menjadi salah satu daerah yang memasok kebutuhan tersebut.

Di sisi lain, lalu lintas sapi dari luar daerah juga masuk ke Lombok Timur. Disnakeswan telah menerbitkan hampir 20 rekomendasi lalu lintas ternak. Rekomendasi tersebut mencakup hampir 300 ekor sapi yang masuk ke Lombok Timur.

Menurut Masyhur, tambahan sapi dari luar daerah belum otomatis menurunkan harga. Pemerintah tetap perlu memperhitungkan keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan pasar.

Ia berharap, Pemprov NTB bersama pemerintah kabupaten dan kota membahas persoalan tata niaga sapi secara bersama.

Dengan koordinasi antardaerah, pemerintah dapat mencari pola perdagangan yang menjaga harga di tingkat peternak sekaligus mengendalikan harga daging bagi konsumen. (*)

Artikel Terkait