Lombok BaratPeristiwa

23 Kebakaran dalam Delapan Hari, Damkarmat Lobar Akui Kurang Armada

Lombok Barat (NTBSatu) – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Lombok Barat mengakui kekurangan armada menghadapi tingginya kejadian kebakaran.

Data Damkarmat mencatat, 23 kejadian kebakaran pada 1-8 September 2026 di Lombok Barat. Angka tersebut cukup tinggi karena pengaruh musim kemarau.

Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Lombok Barat, Lalu Muh. Fauzi, mengakui keterbatasan armada tersebut. “Ya, kalau kita lihat dengan kejadian yang begitu tinggi di bulan Juli, Agustus, September ini, kita rasakan armada kita kurang,” kata Fauzi kepada NTBSatu, Selasa 8 September 2026.

IKLAN

Menurut Fauzi, Damkarmat idealnya memiliki satu mobil tangki pada setiap kecamatan. Target itu bertujuan memperpendek waktu respons petugas ketika kebakaran terjadi.

“Idealnya itu harus ada satu tanki di masing-masing kecamatan,” ujarnya.

Dengan pola tersebut, petugas bisa lebih cepat menjangkau lokasi kebakaran. Fauzi menyebut, Damkarmat menargetkan waktu respons sekitar 15 menit.

IKLAN

“Sehingga kita cepat untuk melakukan bantuan kepada masyarakat, sehingga respon time kita yang 15 menit itu bisa kita capai,” katanya.

Empat Armada Bertahan di Markas Besar

Saat ini, Damkarmat Lombok Barat masih mengandalkan armada yang tersedia di sejumlah titik. Fauzi menyebut, empat armada saat ini berada di Markas Besar (Mabes) sebagai pusat operasional.

Tiga armada berfungsi sebagai mobil pemadam kebakaran. Satu armada lainnya berfungsi sebagai mobil tangki suplai air. Selain itu, satu armada berada di UPT Damkarmat Batu Layar. Armada tersebut juga melayani wilayah Gunungsari dan Batu Layar.

“Di Mabes saat ini ada 4 armada yang stay di situ. Yang tiganya itu adalah armada kebakaran mobil pemadam, yang satunya tangki,” lanjutnya.

Kondisi tersebut membuat Damkarmat harus mengatur armada secara bergantian. Petugas harus mengirim armada untuk mengisi ulang air ketika tangki kosong. Situasi itu semakin berat ketika beberapa kebakaran terjadi dalam waktu berdekatan.

Fauzi menyebut, kebakaran dapat terjadi empat hingga lima kali dalam sehari. Petugas bahkan harus berjaga selama 24 jam selama musim kemarau.

“Bisa 4 sampai 5 kali kejadian. Dari pagi sampai malam itu kami 24 jam standby,” lanjut Fauzi.

Karena itu, keterbatasan armada mulai membebani kemampuan operasional Damkarmat. Ia menyebut kondisi kekeringan membuat kebakaran lahan semakin sulit ditangani.

Kekurangan 43 Personel

Persoalan Damkarmat Lobar ternyata tidak berhenti pada jumlah kendaraan. Fauzi juga mengungkap kekurangan personel untuk mengoperasikan armada. Menurutnya, satu armada idealnya membutuhkan 18 personel.

“Yang minimal satu armada itu harus ada 18 personil yang harus mengikuti armada itu,” ujarnya.

Saat ini, Damkarmat masih kekurangan sekitar 43 personel. Kekurangan itu semakin terasa ketika pemerintah mengaktifkan dua UPT baru.

“ Kondisinya sekarang masih kami kekurangan sekitar 43 orang personil yang harus kami penuhi,” kata Fauzi.

Ia menyebut, kekurangan personel terutama menyangkut UPT Sekotong dan Narmada. Kedua UPT tersebut membutuhkan sekitar 20 personel setiap unit.

Sebelumnya, Komisi III DPRD Lobar menyetujui anggaran penambahan armada pada Agustus 2026. DPRD juga menyetujui pembangunan titik air atau reservoar. Kebijakan tersebut bertujuan mempercepat akses petugas terhadap sumber air. (*)

Artikel Terkait