Kota MataramPemerintahan

Stunting Mataram Capai 1.000 Anak, Sekarbela Catat Sebaran Tertinggi

Mataram (NTBSatu) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram mencatat sekitar 1.000 anak mengalami stunting hingga Juli 2026.

Meski jumlah tersebut masih menjadi perhatian, prevalensi stunting terus menurun. Data Juli 2026 menunjukkan, angka stunting sebesar 5,3 persen. Angka itu turun dari 5,5 persen pada periode sebelumnya.

Kepala Dinkes Kota Mataram, Emirald Isfihan, mengatakan pihaknya terus memperkuat berbagai program untuk menekan angka stunting. Dinkes menargetkan prevalensi stuntin turun hingga kurang dari 5 persen pada akhir 2026.

IKLAN

“Kita targetkan sampai akhir tahun ini bisa di bawah 5 persen,” ujar Emirald, Selasa, 1 September 2026.

Butuh Pendampingan Berkelanjutan

Menurut Emirald, penanganan stunting membutuhkan pendampingan berkelanjutan. Pihaknya tidak hanya menangani kondisi kesehatan anak, tetapi juga memperhatikan faktor yang memengaruhi tumbuh kembang.

Salah satu program yang berjalan yakni orang tua asuh. Program tersebut memberi pendampingan langsung kepada balita yang mengalami stunting.

IKLAN

Pemerintah juga menyediakan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) dengan memperhatikan kebutuhan gizi anak. Dharma Wanita dari sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) turut membantu pendampingan keluarga.

Pemerintah juga memperkuat kerja sama lintas sektor. Intervensi mencakup aspek kesehatan, sosial, hingga kondisi ekonomi keluarga.

Emirald mengatakan, beberapa kasus membutuhkan waktu lebih lama untuk ditangani. Anak dengan penyakit penyerta atau penyakit kronis membutuhkan pendampingan khusus.

“Memang ada kasus yang membutuhkan waktu karena ada penyakit penyerta dan penyakit kronis. Jadi penanganannya tidak bisa langsung,” jelasnya.

Dinkes terus memperbarui data klinis melalui pemantauan lapangan. Langkah tersebut membantu pemerintah memastikan program berjalan tepat sasaran.

Kasus Tertinggi di Sekarbela

Sekarbela menjadi wilayah dengan sebaran stunting tertinggi. Namun, Emirald menegaskan wilayah tersebut tidak lagi masuk kategori zona merah.

“Kita sekarang sudah tidak ada lagi zona merah. Sekarbela memang sebarannya masih yang tertinggi, tetapi statusnya tidak lagi zona merah,” katanya.

Pemerintah terus mendorong setiap wilayah menekan angka stunting. Pemerintah mengandalkan kolaborasi lintas sektor dan pendampingan keluarga untuk mempercepat penurunan prevalensi.

Emirald memastikan pihaknya memiliki dukungan teknis dan sumber daya manusia yang cukup untuk menjalankan program tersebut.

Ia optimistis target stunting kurang dari 5 persen dapat tercapai pada akhir 2026. “Yang kita kejar bukan hanya angka, tetapi bagaimana anak-anak kita bisa tumbuh sehat dan berkembang secara optimal,” tandasnya. (*)

Artikel Terkait