Kota Mataram

Akademisi UIN Mataram: Prediksi Gempa Frankie MacDonald Tak Berdasar Ilmiah

Mataram (NTBSatu) – Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram menilai, prediksi gempa Frankie MacDonald tidak memiliki dasar ilmiah.

Frankie MacDonald memprediksi gempa besar mengguncang Indonesia sebelum akhir 2026. Prediksi itu juga menyebut, potensi gempa berkekuatan magnitudo 7 hingga 9 di Jawa dan Jakarta.

Pakar Kebumian dan Perubahan Iklim UIN Mataram, Irwan, Ph.D., menyoroti kepastian waktu dalam prediksi tersebut. Menurut Irwan, ilmu kegempaan belum mampu menentukan waktu terjadinya gempa secara pasti.

IKLAN

“Di ilmu Geologi atau Seismologi dan Geofisika itu tidak bisa memastikan kapan akan terjadinya gempa secara tepat,” tegas Irwan saat diwawancarai NTBSatu, Rabu, 9 September 2026.

Irwan menjelaskan, ilmuwan hanya mampu memetakan zona yang memiliki potensi gempa. Namun, untuk menentukan kapan gempa akan terjadi pada zona tersebut, masih belum bisa.

“Cuma hanya bisa dipetakan zona risikonya atau potensinya di mana,” ujar Ilmuwan lulusan Universitas Tohoku, Jepang tersebut.

IKLAN

Irwan menyebut, prediksi semacam itu hanya bisa terlihat benar karena kebetulan. Menurutnya, masyarakat sering mengingat prediksi yang kebetulan terbukti benar. Padahal, masyarakat tidak menghitung berbagai prediksi yang sebelumnya tidak terbukti.

“Kan memang banyak prediksi mereka. Hanya beberapa yang bisa benar dan itu kebetulan,” ujarnya.

Irwan juga menilai, latar belakang pembuat prediksi perlu menjadi pertimbangan masyarakat. Ia menyebut Frankie bukan ahli seismologi atau ilmu kebumian.

“Bahkan dalam ilmu seismologi modern tidak bisa diprediksi. Karena memang tidak ada dasarnya,” tegasnya.

Indonesia Memang Berisiko Gempa

Meski menolak prediksi tersebut, Irwan tidak membantah potensi gempa di Indonesia. Ia menjelaskan, Indonesia berada pada kawasan dengan struktur tektonik yang kompleks. Ia mengakui Indonesia berada di lempeng tektonik aktif yang membentuk berbagai zona subduksi serta patahan.

Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah Indonesia memiliki risiko gempa tinggi. Wilayah itu mencakup Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, NTT, hingga Papua.

Namun, potensi tersebut berbeda dengan kemampuan memprediksi waktu gempa. “Di seismologi atau ilmu kegempaan tidak bisa memastikan waktunya,” katanya.

Irwan menegaskan, ilmuwan juga belum bisa menentukan lokasi spesifik gempa berikutnya. Karena itu, masyarakat tidak seharusnya menganggap prediksi Frankie sebagai kepastian.

“Artinya, seseorang yang bukan dari ilmu kegempaan, ilmu kebumian, yang memberikan opini tentang gempa, saya rasa tidak cocok,” ujarnya.

Ia meminta masyarakat menggunakan informasi ilmiah saat menghadapi isu kebencanaan. Menurutnya, masyarakat perlu membedakan antara pemetaan risiko dan prediksi waktu gempa.

Pemetaan menunjukkan wilayah berisiko, sedangkan prediksi menentukan waktu dan lokasi kejadian. Sampai sekarang, ilmu kegempaan belum mampu melakukan prediksi seperti itu secara akurat. Karena itu, Irwan meminta masyarakat tidak mudah percaya pada prediksi yang beredar. (*)

Artikel Terkait