Lahan Sempit Bukan Alasan, Lurah Karang Pule Siasati Pemilahan Sampah dari Rumah
Mataram (NTBSatu) – Kelurahan Karang Pule terus bergerak aktif membenahi sistem pengelolaan sampah berbasis lingkungan. Melalui penerapan aktif program Tempah Dedoro dan pembentukan pilot project kawasan ramah lingkungan (kampung kartini) di lingkungan pande besi (undagi) pihak kelurahan optimis mampu mengubah total perilaku hidup masyarakat.
Lurah Karang Pule, Arizkiwan Mardjun alias Izhan menegaskan, jajarannya saat ini tengah mengejar target pembuatan titik-titik Tempah Dedoro.
“Sudah ada beberapa titik Tempah Tedoro sesuai dengan instruksi Bapak Wali Kota kita. Kita niatkan satu lingkungan dua puluh sampai dua puluh lima titik minimal ya. Alhamdulillah kami di beberapa lingkungan sudah ada sepuluh sampai lima belas titik,” ujarnya pada NTBSatu, Jumat, 5 Juni 2026.
Ia menjelaskan, respons masyarakat setempat terhadap inovasi ini sangat positif. Kendati demikian, ia tidak menampik adanya tantangan besar dalam proses implementasi di lapangan.
“Masyarakat sangat menyambut sebagai program yang sangat baik. Namun, memang perlu sosialisasi agak ekstra karena ini kan hal baru, yang insyaAllah bisa merubah perilaku masyarakat. Yang dulunya buang sampah: angkut, buang. Sekarang ada pilah-pilih,”jelasnya.
Lebih lanjut, kendala utama yang dihadapi adalah minimnya kepemilikan halaman pribadi yang luas oleh warga di kawasan padat penduduk.
“Salah satunya tantangannya, halaman masyarakat. Tidak semua punya halaman yang luas,” ungkapnya.
Sebagai jalan keluar, Izan mengungkap, pihaknya melakukan edukasi warga agar memanfaatkan ruang sempit menggunakan media paralon kecil.
“Ada beberapa cara seperti menggunakan pralon kecil. Yang penting intinya ini kan merubah perilaku masyarakat dari rumah tangga ya,” ucap Izhan.
Izhan menekankan pentingnya fleksibilitas dalam pengelolaan sampah domestik, khususnya limbah dapur rumah tangga. Jika satu metode pengolahan menemui jalan buntu akibat keterbatasan fasilitas atau lahan, masyarakat didorong untuk beralih ke metode alternatif lainnya.
“Jika satu cara tidak memungkinkan, kita pakai cara lain. Akan selalu ada opsi-opsi. Tidak ada akar rotan pun jadi. Kira kira seperti itu lah,”pungkasnya. (*)




