Bertahun-tahun Konsumsi Air Payau, Warga Gili Meno Aksi Protes di Tengah Laut
Lombok Utara (NTBSatu) – Warga bersama Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) NTB menggelar aksi protes di tengah laut Gili Meno, Kamis, 21 Mei 2026. Mereka mendesak pemerintah, memberikan pemenuhan dasar air bersih yang sudah terputus.
Dalam aksi tersebu, warga mengaku sudah tiga tahun tidak mengonsumsi air tawar yang layak untuk kebutuhan sehari-hari. Salah seorang warga dalam orasinya di atas kapal, mendesak respons cepat pemerintah daerah memberikan akses air bersih.
“Aksi yang kita lakukan ini, sekali lagi, bertujuan untuk menuntut Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara. Agar merealisasikan penyaluran air bersih melalui pemipaan bawah laut,” ujarnya, mengutip Facebook Lombok News TV, Kamis, 21 Mei 2026.
Bertahan dengan Air Asin
Dari keterangan warga tersebut, ketiadaan akses air tawar memaksa warga Gili Meno bertahan hidup menggunakan air payau, baik untuk memasak, mandi, hingga konsumsi harian.
Bagi warga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih, akan membeli air tangki kiriman dari daratan Lombok merupakan satu-satunya pilihan, meski harus mengeluarkan biaya yang sangat tinggi.
Warga tersebut juga mengatakan, hal ini sudah berlangsung selama tiga tahun tanpa ada solusi permanen.
Dampak krisis air bersih ini akhirnya meluas dari mulai masalah kesehatan, hingga beban ekonomi yang semakin menjepit warga di kawasan yang merupakan kawasan destinasi wisata internasional.
Tuntut Pemasangan Pipa Bawah Laut
Dalam orasinya, warga juga menegaskan bahwa pembiaran ini tidak boleh terus berlanjut. Mereka membandingkan situasi di Gili Meno dan Gili Air, yang sukses mendapatkan pasokan air bersih.
Meski bertetangga, mereka menilai Gili Air sukses mendapatkan aliran air bersih dengan lancar, melalui infrastruktur pipa bawah laut dari pemerintah.
“Kenapa kami yang di Gili Meno seolah-olah dianaktirikan? Jangan menutup mata. Sekarang bisa diperhatikan bahwa di sekeliling kami ini merupakan bukti nyata warga masyarakat, warga asing, yang menikmati aktivitas di sekitar Gili Meno,” tegasnya.
Ancaman Terhadap Pariwisata
Selain memengaruhi kehidupan warga, krisis air tawar ini mulai mengancam reputasi dan keberlangsungan industri pariwisata di Gili Meno.
Baik wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung untuk aktivitas snorkeling, kini harus menghadapi minimnya fasilitas air tawar di akomodasi lokal.
Oleh karena itu, warga mengkritik keras adanya upaya-upaya pengadaan air yang dianggap tidak sehat, dan merusak ekosistem bawah laut.
Sebagai salah satu daerah penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar di sektor pariwisata Lombok Utara, warga menegaskan akan terus melakukan aksi serupa hingga pemerintah merealisasikan proyek pemipaan air bersih bawah laut. (Inda)




