803 Kilometer Ruas Jalan Kabupaten di Bima Rusak Parah, Anggaran Perbaikan Minim
Bima (NTBSatu) – Kondisi infrastruktur jalan di Kabupaten Bima kian memprihatinkan. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Raung (PUPR) mengungkapkan, hampir setengah dari total panjang jalan kabupaten saat ini dalam kondisi rusak parah.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Bima, Taufik menjelaskan, tingkat kemantapan jalan daerah saat ini hanya menyentuh angka 52 persen. Artinya, masih sisa 47 sekian persen jalan dalam kondisi rusak dan membutuhkan perbaikan.
“Bayangkan aja untuk memelihara jalan kabupaten dengan panjang 803 kilometer. Kita hanya punya uang 4,5 miliar anggaran,” ujar Taufik, Minggu, 5 Juli 2026.
Ia menambahkan, selama periode 2025 hingga 2026, daerah tidak memiliki anggaran memadai untuk pembangunan infrastruktur akibat adanya kebijakan efisiensi dari pusat.
Di sisi lain, pemerintah daerah dihadapkan pada situasi pelik akibat pemangkasan anggaran infrastruktur secara besar-besaran dari pemerintah pusat.
Tak Bisa Andalkan DAK
Pihaknya sudah tidak bisa mengandalkan Dana Alokasi Khusus (DAK) karena telah dinolkan, sementara APBD terus mengalami pemotongan. Kondisi anggaran yang minim ini memaksa Dinas PUPR memprioritaskan penanganan pada sektor darurat saja.
Taufik mengaku, tidak sanggup melakukan rekonstruksi besar. Termasuk memperbaiki dua jembatan yang terputus di Dusun Jala, Desa Ngembe, Kecamatan Bolo dan Desa Rite, Kecamatan Ambalawi karena keterbatasan biaya.
Menurutnya, satu jembatan membutuhkan biaya sekitar Rp10 hingga Rp20 miliar tergantung struktur dan lebar sungai.
“Jembatan putus saja kita enggak cukup uang untuk menanganinya. Karena untuk melakukan pembangunan kembali, rekonstruksi kembali jembatan putus, itu butuh biaya yang mahal,” jelasnya.
Ia menyebut, fokus kebijakan negara saat ini masih tertuju pada sektor ketahanan pangan, bukan infrastruktur jalan.
Hal ini membuat pengalokasian anggaran ke sektor pertanian dan PUPR yang menunjang pangan menjadi lebih besar. Sehingga seluruh daerah mengalami nasib yang sama.
Menyikapi keterbatasan ini, Taufik mengimbau partisipasi aktif masyarakat untuk merawat jalan yang ada.
Ia juga menyoroti kebiasaan warga yang meninggikan halaman rumah di kanan-kiri bahu jalan tanpa memikirkan sistem pembuangan air, sehingga jalan beralih fungsi menjadi selokan saat hujan.




