Kemenag Masifkan Kurikulum Berbasis Cinta di Kota Bima
Kota Bima (NTBSatu) – Kementerian Agama terus bergerak masif menyosialisasikan penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di tingka Raudhatul Athfal (RA) di Kota Bima. Program inovatif yang digagas langsung oleh Menteri Agama ini bertujuan menanamkan nilai-nilai karakter esensial keagamaan dan sosial sejak dini kepada para peserta didik.
Kemenag Kota Bima mengandalkan kolaborasi lintas sektoral untuk mempercepat pemahaman kurikulum baru tersebut.
Selain melibatkan civitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, program ini juga menggandeng perwakilan Komisi VIII DPR RI guna memperkuat pengawasan dan dukungan regulasi di daerah.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bima, Mansyur menegaskan, KBC mengusung tiga pilar inti yang wajib terintegrasi dalam proses pembelajaran sehari-hari.
“Kalau ini bisa berhasil kita aplikasikan. Maka pertama kita dekatkan anak ini kepada Tuhannya, cinta kepada Allah,” ujarnya pada NTBSatu, Jumat, 26 Juni 2026.
Pilar Kedua dan Ketiga KBC
Lebih lanjut, ia menjelaskan pilar kedua dan ketiga KBC berfokus pada hubungan kemanusiaan, serta pelestarian lingkungan hidup demi membentuk harmoni yang utuh.
“Bagaimana bisa terbangun harmonisasi di dalam hubungan persahabatan di antara sesama siswa. Kemudian antara siswa dengan gurunya, lalu bagaimana mereka kita sadarkan, kita pahamkan tentang pentingnya cinta lingkungan,” tambahnya.
Pelatihan guru madrasah berjalan intensif demi memperkuat kompetensi implementasi kurikulum di ruang kelas.
Pemerintah daerah berharap, pendekatan kurikulum berbasis karakter ini tidak sekadar menjadi formalitas dokumen di atas meja. Melainkan dapat menyentuh aspek psikologis terdalam bagi setiap murid madrasah.
“Mudah-mudahan implementasinya langsung menyentuh kepada hati pikiran anak-anak, siswa kita, sehingga dengan demikian nanti akan menjadi karakter mereka. Menjadi hamba yang taat kepada Tuhannya, yang mencintai sesama manusia, dan cinta kepada alam. Itulah filosofi daripada KBC,” papar Mansyur.
Melalui jalur pendidikan resmi, pemerintah ingin memutus rantai perilaku destruktif oknum masyarakat. Sehingga menjamin ketersediaan oksigen dan kelestarian ekologi bagi masa depan generasi muda.
“Penerapan KBC di dalam proses pembelajaran ini menyadarkan generasi kita ke depan. Untuk tidak mengikuti kebiasaan-kebiasaan buruk orang-orang dewasa pada hari ini,” pungkasnya. (*)




