Keberadaan Pabrik Garam Jadi Sorotan, DKP Bima: Kami Masih Merintis
Kota Bima (NTBSatu) – Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, menyoroti keberadaan pabrik garam di Kecamatan Woha, Kabupaten Bima. Berbagai persoalan masih menjadi catatan. Misalnya, operasional belum optimal, kekurangan SDM profesional, hingga alami kerugian.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Muslim menyatakan, operasional pabrik pengolahan garam hingga tahun 2025 belum berdampak signifikan terhadap percepatan pembangunan sektor garam di NTB.
“Pengelolaan pabrik membutuhkan tenaga profesional yang memahami industri pergaraman, termasuk analisis pasar dan perhitungan supply and demand agar operasional pabrik dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan keuntungan ekonomi bagi penambak maupun pengelola,” ucapnya.
Merespons hal tersebut, DKP Kabupaten Bima menegaskan, pengelolaan pabrik garam tersebut memang masih dalam tahap perintisan sejak serah terima pada Desember 2024. Namun kini justru terus menunjukkan progres operasional yang positif.
Pengawas Koperasi Produsen Tahu Tempe dan Garam Indonesia Warga Tolo Da, Nugroho Julianto, tidak menampik mereka sempat melewati masa-masa sulit, terutama pada periode Oktober 2025 hingga April 2026.
Kenaikan harga bahan baku garam krosok yang melonjak tinggi di pasaran tidak sebanding dengan harga beli para pelanggan di Surabaya yang enggan menaikkan harga.
“Kalau kita bilang ada kerugian, iya. Tapi bahasanya begini, karena kemarin harga garam pas lagi naik atau tinggi itu. customer kita itu harganya enggak mau naikin,” jelasnya.
Akibatnya, koperasi memilih membatasi produksi secara signifikan demi menghindari kerugian yang lebih besar.
“Akhirnya kita enggak bisa jualan. Kalaupun kita paksa jualan, itu jual rugi bahasanya,” tambahnya.
Beban biaya tetap yang harus ditanggung setiap bulan ikut memperparah kondisi ini. Nugroho menyebut, tagihan listrik operasional dan gaji bagi lima hingga enam orang karyawan tetap.
“Di sinilah posisi minusnya itu. Otomatis tetap akan kita hitung minus beberapa bulan. Tapi dengan hasil Mei dan Juni ini, tertutuplah yang Januari dan sebelum-sebelumnya itu. Akhirnya alhamdulillah yang tadinya negatif untuk bertahan, sekarang sudah tertutup,” tuturnya.
Produksi Pabrik Melonjak Tajam
Kepala Bidang Kelembagaan dan Investasi DKP Bima, Irmalashari menjelaskan, performa produksi pabrik saat ini melonjak tajam. Pada bulan Mei pabrik berhasil memproduksi 140 ton garam, dan melonjak menjadi 190 ton per tanggal 25 Juni.
Sehingga, ia menilai sejumlah catatan dari DKP NTB belum begitu tepat.
“Kalau tidak optimal, kurang tepat. Terlalu dini. Karena memang, seperti bayi baru lahir harus belajar merangkak baru jalan,” ucapnya.
Irma menambahkan, perkembangan pabrik tidak bisa dinilai berdasarkan keadaan pada satu periode saja.
Pihaknya terus bergerak mengoptimalkan potensi pabrik, dengan memproduksi garam beryodium dan garam industri non-yodium.
DKP Bima juga telah membidik berbagai potensi kerja sama. Mulai dari kerja sama dengan pengusaha lokal melalui jasa pengolahan, hingga melayani kebutuhan garam industri dari luar daerah. (*)




