Tabungan Siswa Diduga Digunakan Guru, Orang Tua Khawatir Tak Bisa Beli Seragam
Lombok Barat (NTBSatu) – Seorang oknum guru di SDN 5 Babussalam, Gerung, Lombok Barat, diduga menggunakan uang tabungan siswa senilai lebih dari Rp105 juta untuk kepentingan pribadi.
Kasus ini memicu kemarahan para orang tua. Sebab, uang yang mereka kumpulkan selama setahun tak kunjung kembali menjelang tahun ajaran baru.
Sejumlah wali murid mengaku sangat bergantung pada tabungan tersebut untuk membeli seragam, sepatu, tas sekolah, hingga kebutuhan pokok keluarga. Salah satu wali murid, Ruminah mengaku, kehilangan sekitar Rp4 juta.
Menurutnya, informasi yang beredar menyebutkan uang tabungan siswa diduga digunakan oleh guru kelasnya untuk menebus sertifikat tanah.
“Katanya ada sengketa tanah dan dia mau tebus sertifikatnya. Uang tabungan siswa dipakai untuk itu,” ujar Ruminah, Selasa, 23 Juni 2026.
Ia mempertanyakan alasan guru menggunakan uang tabungan siswa yang seharusnya menjadi hak anak-anak. “Tapi kenapa harus uang sekolah yang dipakai, uang tabungan kelas,” katanya.
Uang Hasil Buruh Tani dan Pikul Padi
Bagi sebagian besar wali murid, tabungan tersebut bukan uang yang mudah mereka kumpulkan. Ruminah mengaku bekerja sebagai buruh tani. Ia menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya setiap hari.
“Itu yang kami sisihkan Rp10 ribu sampai Rp20 ribu. Padahal kami kerja pikul dan tanam padi di sawah,” ujarnya.
Sementara itu, wali murid lainnya, Rodi mengaku, kehilangan uang tabungan sekitar Rp2,5 juta. Sebagai seorang petani, Rodi berharap dana tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya.
“Kerugian saya sekitar Rp2,5 juta, itu kita kumpulkan dengan kerja seharian di sawah,” katanya.
Ia bahkan telah berjanji kepada pihak tempatnya berutang beras untuk melunasi pembayaran setelah uang tabungan anaknya dicairkan. “Sudah telanjur janji mau bayar utang beras setelah tabungan keluar,” katanya.
Guru Kelas Terlibat
Para wali murid menyebut, tabungan tersebut berada dalam pengelolaan guru kelas III berinisial LA. Mereka mengaku, telah meminta penjelasan dan pengembalian uang. Namun hingga kini uang tersebut belum kembali ke tangan siswa.
Menurut Rodi, guru yang bersangkutan meminta tambahan waktu satu minggu. “Awalnya dia minta dua minggu. Tapi kami minta satu minggu saja,” ujarnya.
Para wali murid sepakat memberikan tenggat waktu hingga Jumat pekan ini. Jika tidak ada pengembalian, mereka mempertimbangkan membawa kasus tersebut ke jalur hukum. “Bisa saja dilaporkan ke polisi,” kata Ruminah.
Selain itu, Nominal tabungan setiap anak berbeda-beda. Ada yang mencapai Rp10 juta, ada pula yang berkisar Rp2 juta hingga Rp5 juta.
Sekolah dan Dinas Belum Beri Penjelasan
Hingga berita ini terbit, Kepala SDN 5 Babussalam, Muhazzab, belum memberikan penjelasan. NTBSatu telah berupaya menghubunginya selama dua hari terakhir. Namun, yang bersangkutan memilih bungkam.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Barat, Lalu Najamuddin mengaku, telah meminta jajarannya turun melakukan pengecekan. “Saya sudah minta Kabid SD untuk turun,” ujarnya singkat.
Namun, Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Barat, Heny Murdianti menyebut, belum mengetahui kondisi di lapangan. “Saya belum cek lapangan,” katanya.
Di tengah belum adanya kejelasan dari pihak sekolah, puluhan orang tua kini hanya bisa menunggu janji pengembalian uang. Padahal, bagi mereka, tabungan itu bukan sekadar angka. Uang tersebut merupakan hasil kerja keras berbulan-bulan yang mereka sisihkan demi masa depan anak-anaknya. (*)




