Lindungi Joki Anak, Regulasi Berlapis dan APD Lengkap Diterapkan Ketat di Pacuan Kuda Bima
Bima (NTBSatu) – Fenomena joki anak dalam tradisi pacuan kuda Bima terus mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Guna memastikan pemenuhan hak dan keselamatan anak-anak tersebut, Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Bina bersinergi erat dengan tim independen pemerhati anak untuk menerapkan regulasi dan pengawasan berlapis di lapangan.
Pemerhati anak, Abdul Wahab mengungkapkan, keterlibatan para aktivis anak, Lembaga Perlindungan Anak (LPA), akademisi, hingga media massa telah berlangsung selama kurang lebih tujuh tahun terakhir.
Kehadiran tim independen ini bertujuan untuk memastikan kesepakatan bersama seluruh prosedur tetap (protap) berjalan tanpa kompromi.
“Sebenarnya di awal, saya kurang setuju karena terkesan eksploitasi ya. Tapi setelah saya masuk secara mendalam di kegiatan pacuan kuda tradisional ini, banyak hal yang kita perbaiki. Tugas kami yang pertama adalah memastikan kesepakatan protap bersama Pordasi itu berjalan,” ungkapnya pada NTBSatu, Senin, 22 Mei 2026.
Salah satu reformasi fundamental yang telah berhasil berjalan adalah pembatasan usia minimal bagi para joki. Aturan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) secara lengkap menjadi syarat mutlak.
“Pordasi dan joki tidak boleh naik kalau tanpa memakai APD lengkap, safety-nya itu kan. Jangankan APD, kalau tidak pakai nomor ban aja kita diskualifikasi. Kalau ada yang melanggar, saya berhentikan. Kita tidak mau kompromi kalau soal itu,” tegasnya.
Rancangan pengawasan di arena pacuan pun berlapis-lapis. Sebelum memasuki lintasan, tim medis dari puskesmas setempat terlebih dahulu memeriksa kesehatan para joki cilik.
Verifikasi identitas secara legal menggunakan akta kelahiran demi memastikan kesesuaian kelas kuda yang joki gunakan.
Perlindungan Psikologis
Tidak hanya berfokus pada keselamatan fisik, aspek psikologis dan hak pendidikan anak turut menjadi prioritas utama. Manajemen pacuan kuda menyediakan ruangan khusus di bawah pengawasan tim independen yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Bima.
Di ruangan tersebut, terdapat fasilitar Alat Permainan Edukatif (APE) serta guru privat para joki. Agar mereka tetap dapat belajar secara mandiri di sela-sela waktu rehat.
“Kita menggandeng juga teman-teman di Dikpora untuk memfasilitasi anak-anak itu belajar mandiri di tempat pacuan kuda, kita sediakan ruangan khusus. Kita meminta guru privat untuk memfasilitasi kelompok bermain anak-anak,” pungkasnya. (*)




