Sidang Lanjutan Dana “Siluman” DPRD NTB, Dewan Ditawari Pilihan Program
Mataram (NTBSatu) – Sejumlah anggota dewan memberikan keterangan untuk kasus dana “siluman” atau gratifikasi DPRD NTB pada Rabu, 6 Mei 2026. Mengaku terima pesan “satu pintu” dari pihak eksekutif hingga bertemu Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal.
Para anggota dewan itu adalah Megawati Lestari, Sitti Ari, Muhamad Aminurlah, dan Nadirah Al Habsyi. Keempatnya memberikan kesaksian untuk terdakwa Indra Jaya Usman (IJU), Hamdan Kasim, dan Muhammad Nashib Ikroman alias Acip.
Di hadapan majelis hakim, Nadirah mengaku menemui Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) NTB, Nursalim pada Juni 2025. Ia mempertanyakan program direktif Gubernur Lalu Muhamad Iqbal.
“Saya tidak dapat penjelasan, cuma diberitahu program Gubernur,” katanya di Ruang Pengadilan Tipikor Mataram.
Setelah itu, Nursalim mengarahkan Nadirah bertemu Indra Jaya Usman. Alasannya agar “satu pintu”. Namun, politisi Partai Bulan Bintang (PBB) memilih menghubungi pegawai Bappeda bernama Firman.
Firman kemudian memberi formulir data By Name By Address (BNBA). “Saya cuma diberi nomor pak Firman, untuk menanyakan program itu. Firman memberikan (penjelasan) semacam program direktif gub (Gubernur) lewat WA (WhatsApp). Saya tidak paham BNBA yang dikirim Firman,” jelasnya.
Mengetahui Ada Pembagian Uang
Nadirah kemudian bertemu dengan Sitti Ari. Keduanya lalu ke ruangan Ketua DPRD NTB, Baiq Isvie Rupaeda. Mereka menanyakan perihal program direktif Gubernur Iqbal.
Di dalam ruangan Isvie, ada Wakil Ketua II Yek Agil. “Saya tanyakan bagaimana permasalahan program dari Gubernur. Ibu ketua menjelaskan tidak tau. Yek Agil yang tau,” ucapnya.
Nadirah mengaku sempat ditanyakan oleh Yek Agil, apakah dia memilih program atau uang. “Saya memilih program,” katanya.
Nadirah mengakui, pernah mendengar adanya pembagian uang di lingkungan DPRD NTB. Tetapi tak mengetahuinya secara detail. Kepastian kabar itu diketahuinya dari media sosial.
Begitu juga dengan pengembalian uang oleh anggota DPRD NTB ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB. Ia mendapatkan informasi itu setelah dipanggil kejaksaan.
“Soal bagi-bagi uang, saya hanya mendengar saja. Untuk kejelasan melihat, tidak tau. Bagi-bagi uang Rp150 juta sampai Rp200 juta, awalnya saya nggak tau. Setelah heboh di media, saya tahu ada Salman, Hulaemi,” bebernya.
Penasihat hukum ketiga terdakwa, Emil Siaian kemudian mencecar Nadirah. Ia mempertanyakan hubungan legislatif dengan program eksekutif.
“Cuma heboh saja, saya tidak mendapat kejelasan. Makanya saya ke Pak Nursalim. Saya tanya ibu ketua (Isvie), ketua tidak tau. Setelah dari ruangan, ibu ketua nggak tau, hanya Yek Agil (yang tau),” jawabnya.
Di ruang sidang terungkap, Nadirah memberikan catatan dalam kertas kepada Kejati NTB. Isinya tentang para pihak yang disebut sebagai pemberi uang. Mereka adalah ketiga terdakwa tersebut.
“Saya ditanya jaksa siapa membagi uang, saya hanya mendengar saja dan dari media,” katanya.
Hakim kemudian mempertegas pertemuan Nadirah dengan Kepala BKAD NTB. Anggota dewan itu lalu menjawab, ia mengetahui program direktif setelah bertemu Nursalim.
“Saya tanyakan program (senilai) Rp2 miliar. (Nursalim) menjelaskan itu bukan Pokir (Pokok-pokok Pikiran) tetapi direktif Gubernur. Soal ‘satu pintu’ ke IJU, lewat satu orang,” tambahnya.
Cabut Keterangan BAP
Sementara itu, Megawati Lestari mencabut poin 14 Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Ia membantah keterangannya sendiri tentang mengetahui informasi bagi-bagi uang untuk anggota DPRD NTB yang baru terpilih.
“Saya tahu dari media sosial. Karena saya waktu itu baru cuti ibadah Haji,” ucap istri Kakanwil Kemenag NTB, Zamroni Aziz ini.
Dalam BAP itu juga, Megawati juga mengatakan ada pertemuannya dengan terdakwa Hamdan Kasim. Namun di hadapan majelis hakim, politisi Golkar itu membantahnya. “Saya tidak ke sana. Saya langsung pulang,” kelitnya.
Sedangkan, Sitti Ari tidak mengelak pernah bertemu Gubernur Iqbal bersama anggota dewan lainnya, Yasin dan Nadirah Al Habsyi. Kala itu, Iqbal mengatakan akan memberikan program kepada anggota DPRD NTB periode 2024-2029 yang baru terpilih.
“Saya di situ tidak terlalu jelas. Saya di situ hanya silaturahmi. Yang saya dengar sekilas, Gubernur akan memberikan program untuk anggota baru. Program apa, saya tidak tahu,” ujar politisi PPP itu. (*)




