Cerita Orang Tua Korban Santri Diduga Dibakar di Lombok Tengah: Jual Sapi hingga Anak Dibuli
Mataram (NTBSatu) – Keluarga tiga santri korban dugaan pembakaran di Ponpes Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy, Lombok Tengah harus berjuang keras membiayai pengobatan anak mereka.
Bahkan di antara orang tua korban rela menjual dua ekor sapi dan meminjam uang demi menyelamatkan nyawa putranya.
Tiga korban dalam peristiwa tersebut adalah Sahid Al Hudrry, Ahmad Devan Ramadhan, dan M. Sahril Sobirin. Ketiganya diduga menjadi korban pembakaran oleh sesama santri berinisial MR.
“Saya jual dua ekor sapi untuk biaya pengobatan anak saya. Saya juga ambil uang MEKAR Rp15 juta,” kata orang tua Sahid Al Hudri, Rumidah pada Kamis, 9 Juli 2026.
Ia mendapat kabar, sang buah hati bersama dua temannya dibawa ke Puskesmas Pancor Dao oleh pihak pondok. Kondisi ketiganya saat itu mengalami luka bakar serius.
“Waktu saya melihat anak saya, kondisinya sudah hitam dan gosong. Saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Saya antara sadar dan tidak melihat kondisi anak saya,” ujarnya.
Pihak puskesmas selanjutnya merujuk korban ke Rumah Sakit Umum Daerah Praya, Lombok Tengah untuk menjalani perawatan selama 12 hari menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan.
Namun setelah itu, keluarga harus menanggung biaya pembelian obat yang nilainya mencapai jutaan rupiah.
“Saya beli obat Rp1,7 juta, ada yang Rp500 ribu, sampai obat Cina tiga butir seharga Rp3 juta. Alhamdulillah sempat ada perubahan. Tapi setelah perban terbuka, lukanya membusuk dan mengeluarkan bau,” bebernya.
Rumidah juga mengaku bantuan dari pihak pondok pesantren sangat terbatas. Mereka hanya memberikan tiga kali santunan. Pertama Rp500 ribu, kedua Rp250 ribu, dan ketiga Rp200 ribu.
Ngaku Korban Mengalami Perundungan
Sementara itu, ibu Ahmad Devan Ramadhan, Nuraini mengungkapkan, berdasarkan cerita para korban, bensin menjadi pemicu kebakaran dibeli atas perintah MR.
“Anak-anak cerita kalau yang beli bensin itu atas perintah MR. Kalau tidak mau, mereka diancam dipukul. Katanya bensin itu untuk membakar plastik mika,” ucapnya.
Penuturan korban, api membesar hingga MR berusaha memadamkannya menggunakan kayu. Saat mencoba mengambil botol bensin, bahan bakar justru tumpah dan menyambar barang-barang di dalam gudang.
“MR berhasil keluar, tetapi dia tidak membuka pintu ruangan, sehingga tiga korban terjebak di dalam,” ujarnya.
Setalah mendengar cerita korban, Nuraini kemudian menyampaikan hal tersebut kepada pihak ponpes. “Kami datang ke pondok dan menceritakan semuanya sesuai pengakuan anak-anak. Respons pihak pondok hanya mengatakan, ‘oh seperti itu’,” katanya.
Ia juga mengaku anaknya kerap mengalami dugaan perundungan sebelum peristiwa tersebut terjadi.
“Anak pimpinan pondok bersama MR sering membuli anak saya. Mereka ditelanjangi, dipukul, ditendang di kepala dan badan. Katanya tuan guru tidak tahu. Kami hanya meminta pertanggungjawaban dan polisi menangkap pelakunya,” tandasnya. (*)




