Sumbawa Barat

Bulog Butuh Mitra untuk Optimalkan Serap Gabah Petani KSB

Sumbawa Barat (NTBSatu)  — Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) terus berkoordinasi intensif dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk memastikan kelancaran penyerapan gabah hasil panen petani pada musim ini. Sinergi lintas sektor diperkuat agar seluruh hasil produksi padi masyarakat dapat terserap secara optimal.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan KSB, Nurul Syaspri Akhdiyanti menegaskan, pihaknya mengambil langkah ini menyusul evaluasi kapasitas serap Bulog di wilayah KSB yang dinilai perlu diperluas jaringan mitranya. Saat ini baru terdapat dua pengusaha pangan lokal yang aktif menjadi mitra resmi Bulog.

“Iya, mitra Bulog baru dua pengusaha sekarang ini. Makanya mereka sulit memaksimalkan pembelian gabah petani,” ujarnya kepada NTBSatu, Minggu, 24 Mei 2026. 

IKLAN

Pemerintah daerah melihat potensi pertanian di Bumi Pariri Lema Bariri sangat besar. Oleh karena itu, skema kemitraan dengan pengusaha lokal dipandang sebagai solusi jitu untuk memperpendek rantai pasok gabah petani.

Namun, dalam pelaksanaannya di lapangan, para pengusaha daerah masih menghadapi beberapa penyesuaian regulasi teknis. Salah satunya adalah pemenuhan jaminan modal dalam sistem kontrak pengolahan atau maklon yang diwajibkan oleh Bulog pusat.

“Sistem maklon yang disyaratkan saat ini memerlukan kesiapan modal jaminan hingga 100 persen dari kapasitas lantai jemur. Hal ini yang sedang dikonsolidasikan oleh teman-teman mitra di daerah,” tambahnya.

IKLAN
Fokus Peningkatam RMU

Selain persoalan administrasi modal, aspek peningkatan teknologi penggilingan padi atau Rice Milling Unit (RMU) juga menjadi fokus perhatian. Saat ini, mayoritas fasilitas penggilingan lokal di KSB masih berada pada standardisasi pemrosesan beras kualitas medium.

Di sisi lain, kebutuhan pasar strategis nasional kini cenderung lebih banyak menyasar komoditas beras kualitas premium. Sinkronisasi teknologi RMU ini menjadi agenda penting agar hasil olahan lokal dapat memenuhi kriteria serap skala besar.

“Kapasitas RMU kita di Sumbawa Barat rata-rata memang baru pada level medium. Kita berharap ada program peningkatan teknologi ke depan agar bisa menyuplai beras premium,” katanya. 

Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah ketersediaan ruang simpan internal. Di mana Bulog saat ini hanya memiliki satu unit gudang mandiri di KSB. Terbatasnya daya tampung ini membuat pemda ikut turun tangan mencarikan solusi fasilitas pendukung.

Sebagai langkah konkret, DKP KSB kini aktif menjembatani Bulog dengan pemilik gudang swasta potensial di daerah untuk sistem sewa. Kerja sama pemenuhan infrastruktur ini diharapkan selesai sebelum puncak panen raya tiba.

“Terutama soal gudang dan kapasitas penyimpanannya karena gudang yang dimiliki Bulog juga terbatas. Bulog saat ini juga sedang mencari gudang untuk mereka sewa,”pungkasnya. (*)

Artikel Terkait

Back to top button