Setuju Larangan Sapi Kembali ke NTB, APPSBDI Minta Solusi Pemprov
Mataram (NTBSatu) – Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Bima Dompu Indonesia (APPSBDI) menanggapi terkait kebijakan larangan sapi kurban kembali masuk ke NTB usai dikirim ke Jabodetabek.
Ketua APPSBDI NTB, Furqan Sangiang mengaku, sepakat dengan kebijakan tersebut. Sebab, larangan ini memang sudah berlaku sejak tahun-tahun sebelumnya. Alasannya, demi mencegah penyebaran penyakit hewan masuk ke NTB.
Namun demikian, ia meminta Pemprov NTB tidak hanya mengeluarkan larangan, melainkan juga menyediakan solusi konkret. Setidaknya bisa menyediakan kandang sementara di lokasi penjualan untuk menampung sapi-sapi yang belum laku terjual.
“Cuman, harus ada solusi dari pemerintah. Misalnya, disediakan dong kendang di Jabodetabek itu. Nah, seharusnya kalau pemerintah itu bijak, menurut saya, itu sediakan kandang di sana,” kata Furqan, Minggu, 24 Mei 2026.
Jika tidak demikian, lanjut dia, Pemprov NTB bisa membantu dengan cara mempromosikan ternak-ternak tersebut ke relasi dan kerabatnya di Jabodetabek. Sehingga, jumlah ternak tidak terjual berkurang.
“Karena sapi-sapi yang tidak laku ini, terpaksa mereka harus menjualnya dengan harga murah. Skema penjualannya dengan melakukan lelang,” ujarnya.
Menurut dia, pemerintah perlu melakukan hal tersebut. Pasalnya, lewat bisnis ini pemerintah juga mendapat keuntungan yang masuk ke kas daerah. Yaitu, bersumber dari retribusi pelayanan kesehatan hewan seperti penerbitan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dan sebagainya.
“Sumbangan mereka ke PAD itu bukan main-main. Bayangkan petani bima ini setiap tahun mengirim sapi ke Jabodetabek. Itu yang kembali ke daerah banya. Belum retribusi, belum pembayaran-pembayaran lainnya, itu masuk ke kas daerah,” ungkapnya.
Di samping itu, Furqan mengaku keberatan dengan pernyataan Pemprov NTB tersebut. Ia mengaku pernyataan itu terlalu dini disampaikan, saat masih ada sapi yang belum habis terjual di pasar Jabodetabek.
“Statement itu seharusnya tidak dikeluarkan dalam posisi saat ini. Karena masih ada beberapa sapi yang belum terjual,” ujarnya.
Ia menilai, pernyataan tersebut dapat memunculkan kesan seolah-olah sapi asal Bima tidak laku di pasaran Jakarta. Padahal, kondisi di lapangan berbeda.
“Hampir semua kandang sapi Bima di Jombang, Jawa itu hampir habis, tinggal sedikit,” katanya.
90 Persen Sapi Laku Terjual
Ia menyampaikan, dari sekitar 125 kandang berisikan sapi-sapi dari NTB di Jabodetabek, hampir 90 persennya sudah laku terjual. Bahkan ada pengusaha yang meminta tambahan kuota.
“Sudah angkat bendera semua. Bahkan ada di Jakarta Utara itu, mereka nyari sapi di kandang-kandang lain karena habis sapinya,” katanya, Minggu, 24 Mei 2026.
Tahun ini, NTB mendapat kuota pengiriman sapi ke Jabodetabek sekitar 26 ribu. Mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya hanya sekitar 21 ribu ekor.
Melihat tren peningkatan ini, ia mengaku awalnya pesimis. Pasalnya, pada tahun lalu dengan kuota 21 ribu saja, banyak sapi terpaksa kita lelang dengan harga murah. Hal ini karena tidak semuanya laku terjual hingga hari H kurban.
“Tapi Alhamdulillah di tengah jalan, sampai akhir ini justru sudah banyak yang angkat bendera. Menandakan sapi mereka habis terjual,” ujarnya.
Di tahun-tahun sebelumnya, sapi-sapi ini biasanya akan habis terjual beberapa hari setelah hari raya Iduladha lewat. Namun sekarang, empat hari sebelum memasuki hari H, sudah banyak pengusaha yang habis jualannya.
“Ini kan masih H-4, biasanya jualan kita itu habis setelah H+3 atau H+2,” ujarnya.
Di tengah penjualan yang menujukkan tren positif ini, ia berharap para pengusah ternak di Jabodetabek tidak mudah tertipu.
“Jadi, teman-teman di Bima Dompu yang jual sapi di Jabodetabek, tolong, hindari penipuan. Jangan sampai ada sapi yang dibawa keluar tapi belum pembeli belum bayar lunas, karena hampir setiap tahun penipuan hampir miliaran,” tutupnya. (*)



