Prabowo Panggil Tokoh Ekonomi Era SBY ke Istana, Bahas Pengalaman Hadapi Krisis
Jakarta (NTBSatu) – Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah pejabat dan tokoh ekonomi era Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 22 Mei 2026. Pertemuan itu untuk mendengarkan pengalaman mereka dalam menghadapi berbagai krisis ekonomi pada masanya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, para tokoh tersebut berbagi pengalaman terkait penanganan krisis ekonomi yang terjadi pada 2004-2014.
“Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008. Kebetulan mereka rata-rata di periodenya antara 2004 sampai 2014,” ujar Airlangga usai mendampingi Prabowo di Istana, mengutip video YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu, 23 Mei 2026.
Sejumlah tokoh yang hadir, di antaranya ekonom sekaligus Mantan Kepala Bappenas 2005-2009, Paskah Suzetta; Mantan Gubernur Bank Indonesia 2003-2008, Burhanuddin Abdullah. Kemudian, Mantan Duta Besar RI untuk China 2005-2009, Sudrajat hingga Mantan Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional 2010-2014, Lukita Dinarsyah Tuwo.
Sebut Fundamental Ekonomi Nasional Lebih Kuat
Menurut Airlangga, para tokoh tersebut turut menyampaikan sejumlah catatan terkait kondisi ekonomi yang pernah pemerintah hadapi pada masa lalu. Ia menuturkan, Indonesia pernah mengalami inflasi tinggi hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat krisis minyak dunia pada 2005.
“Mereka mengatakan kalau di masa lalu inflasi kita di periode sekitar 17 persen dan juga terjadi perubahan nilai kurs akibat krisis minyak di tahun 2005. Ada krisis minyak di mana harga minyak bisa naik sampai 140 dollar. Ada pada waktu itu penyesuaian harga sehingga inflasinya bisa naik ke 27 persen,” kata Airlangga.
Dari hasil diskusi tersebut, lanjut Airlangga, para tokoh ekonomi menilai, kondisi makroekonomi Indonesia saat ini relatif lebih baik daripada periode krisis sebelumnya. Selain itu juga, menilai fundamental ekonomi nasional lebih kuat dengan depresiasi rupiah yang masih terkendali.
“Fundamental lebih kuat dan depresiasi rupiah itu sekitar lima persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya. Dan dari situ sebetulnya kita belajar bagaimana mengantisipasi dan apa yang diperlukan untuk menghadapi situasi-situasi ke depan,” ucapnya.
Airlangga menambahkan, Presiden Prabowo juga meminta para menteri terkait untuk terus memantau berbagai regulasi guna memperkuat stabilitas finansial nasional. Selain itu, para tokoh juga meminta pemerintah menjaga prinsip kehati-hatian sektor perbankan, termasuk mengkaji penguatan permodalan bank-bank di Indonesia.
“Dan juga menjaga prudensial dari perbankan kita. Kita memang jumlah perbankan banyak dan mungkin kita perlu kaji bagaimana permodalannya untuk diperkuat,” imbuh Airlangga. (*)




