MotoGP Mandalika: Momentum Akselerasi Transformasi Ekonomi NTB

Oleh: Sambirang Ahmadi & Aryanti Dwiyani – Ketua Komisi III DPRD NTB & Kabid Perdagangan Luar Negeri Disperindag NTB
Akhir pekan ini, 9–11 Oktober 2026, deru mesin MotoGP kembali menggema di Mandalika. Untuk kelima kalinya sejak 2022, Lombok menjadi panggung olahraga dunia. Kehadiran ajang ini bukan hanya menghadirkan kebanggaan, tetapi juga memperkuat posisi NTB dalam peta pariwisata dan ekonomi global. Kini tersedia peluang yang semakin besar: menghubungkan reputasi internasional Mandalika dengan kemajuan perdagangan, industri, pertanian, perikanan, dan kesejahteraan masyarakat.
Peluang tersebut sejalan dengan arah RPJMD NTB 2025–2029, yang mengusung visi “Bangkit Bersama Menuju NTB Sebagai Provinsi Kepulauan yang Makmur Mendunia”. Tiga agenda besarnya—pengentasan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan dan industri agromaritim, serta pariwisata mendunia—dapat saling bertemu dalam ekosistem MotoGP. Pariwisata menciptakan permintaan; petani, nelayan, pengrajin, industri kecil, dan penyedia jasa lokal mengisi permintaan itu; nilai tambah yang dihasilkan memperluas kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat.
Dampak Ekonomi yang Semakin Terukur
Optimisme ini memiliki landasan empiris. Taupikurrahman dan Suwandana (2022), melalui pendekatan Inter-Regional Input-Output (IRIO) terhadap MotoGP 2022, mengestimasi dampak output Rp606,92 miliar, nilai tambah Rp315,94 miliar, upah tenaga kerja Rp137,67 miliar, dan potensi pajak Rp14,25 miliar. Meskipun merupakan hasil estimasi melalui pemodelan ekonomi, temuan tersebut memberikan gambaran kuantitatif mengenai kontribusi awal MotoGP terhadap aktivitas perekonomian daerah.
Kajian Kementerian PPN/Bappenas yang diluncurkan pada 30 September 2026 memperkirakan dampak ekonomi nasional MotoGP Mandalika 2025 sebesar Rp2,7–4,7 triliun, mencakup efek langsung, tidak langsung, dan lanjutan (Bappenas, 2026).
Meskipun menggunakan pendekatan dan cakupan pengukuran yang berbeda sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung, kedua kajian tersebut menunjukkan bahwa dampak ekonomi MotoGP dapat diidentifikasi dan diukur melalui sejumlah indikator pembangunan.
Hasil kajian ini dapat menjadi dasar penguatan kebijakan dan kolaborasi dunia usaha agar dampak ekonomi MotoGP semakin besar, merata, dan berkelanjutan. Ukuran yang relevan bukan hanya jumlah pengunjung, tetapi juga lama tinggal, belanja pada produk lokal, nilai tambah, kesempatan kerja, perluasan pasar, dan keterkaitan usaha antardaerah.
Besarnya dampak ekonomi tersebut merupakan modal penting. Namun, dalam perspektif pembangunan jangka panjang, nilai strategis MotoGP tidak hanya terletak pada aktivitas ekonomi yang tercipta selama penyelenggaraan, tetapi juga pada kemampuannya mendorong peningkatan produktivitas dan penguatan struktur ekonomi daerah.
Transformasi Ekonomi dan Agenda RPJMD
Dalam kajian ekonomi pembangunan, perubahan struktur ekonomi merupakan proses jangka panjang. Arthur Lewis (1954) menjelaskan bagaimana perpindahan tenaga kerja dari sektor berproduktivitas rendah ke sektor modern dapat menopang pembangunan; sementara Chenery dan Syrquin (1975) menekankan pola perubahan struktur produksi, permintaan, dan perdagangan sepanjang proses pembangunan.
Kedua perspektif tersebut menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak cukup bertumpu pada peningkatan output, tetapi juga memerlukan perubahan struktur produksi, diversifikasi sumber pertumbuhan, dan peningkatan produktivitas. Dalam konteks NTB, MotoGP membuka peluang untuk mempercepat proses tersebut melalui penguatan sektor-sektor ekonomi non-tambang.
Bagi NTB, relevansinya besar. Pariwisata kelas dunia membutuhkan pangan berkualitas, produk olahan, transportasi, jasa kreatif, tenaga terampil, serta layanan digital. Dengan mengembangkan kemampuan memasok kebutuhan tersebut dari dalam daerah, permintaan yang tumbuh di Mandalika dapat memperkuat industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan perikanan. Inilah titik pertemuan konkret antara pariwisata mendunia dan pembangunan agromaritim yang diamanatkan RPJMD.
Dari Pengunjung Menjadi Pasar bagi Produk NTB
Albert O. Hirschman (1958) menjelaskan pentingnya keterkaitan ke belakang dan ke depan (backward and forward linkages). Pertumbuhan sektor pariwisata akan memberikan daya ungkit lebih kuat ketika meningkatkan permintaan kepada pemasok lokal sekaligus membuka peluang pengolahan, distribusi, dan pemasaran produk daerah.
Dalam bahasa praktis: setiap tambahan kamar hotel yang terisi dapat menjadi peluang bagi pemasok pangan; setiap restoran yang ramai dapat menjadi pasar bagi hasil laut dan produk olahan; setiap wisatawan yang pulang dapat menjadi pembawa cerita sekaligus calon pembeli produk NTB.
Karena itu, momentum MotoGP dapat dimanfaatkan untuk mempertemukan kebutuhan industri pariwisata dengan kapasitas produsen daerah. Dinas yang membidangi perdagangan dan perindustrian, perangkat daerah pertanian dan kelautan, pengelola kawasan, asosiasi hotel-restoran, serta pelaku UMKM dapat memperkuat temu bisnis (business matching), kurasi produk, standar mutu, kemasan, sertifikasi, dan kepastian pasokan. Pendekatannya bukan sekadar menghadirkan bazar tiga hari, melainkan membangun hubungan pembelian yang berulang sepanjang tahun.
Penguatan industri pengolahan menjadi penting agar komoditas unggulan NTB tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga hadir sebagai produk bernilai tambah tinggi yang memiliki daya saing di pasar domestik maupun internasional.
Produk unggulan NTB juga dapat diperkenalkan sebagai bagian dari pengalaman Mandalika: tenun, kerajinan, pangan olahan, kopi, hasil laut, dan produk kreatif lainnya. Bagi produk yang memenuhi standar, jejaring wisatawan dan pelaku bisnis internasional membuka peluang promosi pasar ekspor. Dengan demikian, penyelenggaraan MotoGP berfungsi sekaligus sebagai etalase pariwisata, perdagangan, dan industri daerah.
Memperluas Manfaat Lintas Wilayah
Selain memperkuat rantai nilai produk lokal, manfaat MotoGP juga dapat diperluas melalui pengembangan konektivitas dan promosi destinasi wisata antardaerah. Nilai strategis Mandalika akan semakin besar ketika wisatawan memperoleh alasan untuk tinggal lebih lama dan menjelajahi lebih banyak destinasi. Paket perjalanan yang menghubungkan Mandalika dengan berbagai destinasi unggulan, mulai dari Sembalun, Senggigi, Gili Tramena, desa-desa wisata, hingga pesona wisata hiu paus di Teluk Saleh, Sumbawa, dapat memperpanjang masa tinggal wisatawan, memperluas sebaran manfaat ekonomi, sekaligus memperkenalkan kekayaan alam dan budaya NTB kepada dunia.
Peluang lainnya adalah pengembangan tenaga kerja lokal. Bahasa asing, layanan perhotelan, manajemen acara, pemasaran digital, logistik, hingga standar keamanan dan mutu produk merupakan kompetensi yang dapat terus dikembangkan. Semakin banyak warga NTB masuk ke pekerjaan yang terampil dan produktif, semakin kuat hubungan antara kemajuan pariwisata dan agenda pengurangan kemiskinan.
Lima Langkah Akselerasi
Untuk memperkuat kontribusi MotoGP terhadap pelaksanaan RPJMD, setidaknya ada lima langkah yang dapat ditempuh secara kolaboratif.
Pertama, memperkuat peta kebutuhan belanja industri pariwisata dan kapasitas pemasok lokal, sehingga peluang kemitraan pangan, kerajinan, transportasi, dan jasa dapat ditindaklanjuti secara terukur.
Kedua, memperluas temu bisnis, pendampingan standar produk, kemasan, sertifikasi, serta akses pembiayaan bagi IKM dan UMKM agar mampu menjadi pemasok tetap, bukan hanya peserta kegiatan promosi.
Ketiga, mengintegrasikan promosi MotoGP dengan paket wisata lintas Lombok–Sumbawa dan etalase produk unggulan daerah, termasuk peluang perdagangan antardaerah dan pasar ekspor.
Keempat, memperkuat pelatihan vokasi, keterampilan bahasa, dan kemampuan digital untuk memperbesar partisipasi pekerja serta wirausaha lokal dalam rantai nilai pariwisata.
Kelima, mengembangkan pemantauan dampak tahunan dengan indikator yang konsisten—nilai tambah, belanja produk lokal, kesempatan kerja, lama tinggal wisatawan, dan manfaat fiskal sesuai kewenangan—sebagai masukan bagi perencanaan program yang semakin tepat sasaran.
Langkah-langkah ini bukan agenda yang berdiri sendiri, melainkan cara memperkuat sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, pemerintah pusat, ITDC, MGPA, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat. Dalam semangat “Bangkit Bersama”, kolaborasi menjadi prasyarat agar reputasi global Mandalika semakin nyata manfaatnya bagi ekonomi rumah tangga dan usaha lokal.
Lima tahun MotoGP memberi NTB modal penting berupa pengalaman penyelenggaraan, perhatian dunia, dan peluang pasar yang terus terbuka. Tantangan ke depan dapat dijawab dengan memperdalam keterkaitan sektor pariwisata dengan perdagangan dan industri daerah.
Deru mesin MotoGP mungkin terdengar hanya sepanjang akhir pekan; tetapi mesin produktivitas, investasi, dan kesejahteraan yang digerakkannya dapat bekerja sepanjang tahun. Di situlah Mandalika menemukan makna terbesarnya: mendukung NTB yang semakin makmur dan mendunia. (*)




