10 Tahun Identitas Dipakai, Perempuan Asal Jambi Klaim Wajahnya Jadi Modal Penipuan di Lombok
Mataram (NTBSatu) – Seorang perempuan asal Jambi berinisial M (24) mengaku identitas visualnya dipakai orang lain selama hampir satu dekade (10 tahun). Pelaku diduga menggunakan wajahnya untuk membangun persona palsu di sejumlah platform digital. Ia juga menduga identitas tersebut pelaku pakai untuk mendekati sejumlah pria hingga meminta uang.
Kasus itu bermula dari temuan akun Facebook yang memakai foto wajahnya sejak 2018. Akun tersebut awalnya menggunakan nama “Onichan” sebelum berganti menjadi “Seftia Febrianti”.
Korban M, pertama mengetahui akun itu pada 2020 melalui seorang rekannya. Temannya mengirim tangkapan layar akun yang menggunakan foto wajahnya. Ia kemudian menemukan unggahan lama saat akun tersebut bermain Mobile Legends.
“Di tahun 2018, si ‘Onichan’ bermain Mobile Legends menggunakan foto profil saya,” kata Korban M kepada NTBSatu, Jumat, 11 September 2026.
Ia kemudian melaporkan akun tersebut dan meminta bantuan pengikutnya untuk “report” akun itu juga. Namun, akun Facebook miliknya justru kena peretasan setelah upaya pelaporan tersebut. Ia lalu mengira akun palsu itu sudah hilang karena tidak lagi menemukannya. Belakangan, ia mengetahui akun tersebut berganti nama dan tetap beroperasi.
Foto Keluarga Ikut Dikumpulkan
Penelusuran terbaru membuat Korban M tersebut menemukan jejak penggunaan identitas yang lebih panjang. Ia mengaku berhasil melihat isi akun Facebook tersebut dari 2016 hingga 2026.
Dari penelusuran itu, ia menemukan banyak foto ia dan keluarganya. Foto tersebut berasal dari berbagai fase kehidupannya.
“Dari 2026 sampai 2016 itu banyak sekali foto-foto saya,” ujarnya.
Dokumen kronologi yang ia susun juga mencatat akun tersebut aktif sejak Juni 2016. Ia menemukan foto masa sekolah, kuliah, keluarga, hingga foto peliharaan.
Pelaku juga diduga mengedit sejumlah foto menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Salah satu foto mengubah pakaian dalam gambar menggunakan teknologi AI. Ia mengaku khawatir penyalahgunaan tersebut dapat berkembang menjadi manipulasi yang lebih berbahaya.
“Sebagai perempuan, saya merasa ini cukup membahayakan,” kata M menjelaskan.
Menurut M, pelaku juga memakai foto tersebut pada akun TikTok dan platform lain. Penelusurannya juga menemukan sejumlah akun Mobile Legends yang menggunakan visual serupa. Temuan tersebut memperlihatkan penyalahgunaan identitas tidak hanya terjadi pada satu platform.
Wajah Dipakai Membangun Hubungan Palsu
Persoalan menjadi lebih serius ketika perempuan itu menemukan dugaan korban dari akun tersebut. Ia mengaku berbicara dengan salah satu pria yang pernah menjalin hubungan dengan akun “Seftia Febrianti”.
Pria tersebut mengaku tidak pernah bertemu langsung dengan pemilik akun tersebut. Namun, akun itu beberapa kali meminta uang dan biaya transportasi. Pemilik akun juga menjanjikan pertemuan di Lombok.
“Seftia meminta dikirimkan uang dan berjanji akan bertemu di Lombok,” kata korban tersebut.
Korban M juga mencatat pria yang menjadi korban, mengaku kehilangan uang hingga jutaan rupiah. Korban juga mengaku mendapat pesan dari sejumlah pria lain terkait akun tersebut.
Mereka mempertanyakan identitas perempuan yang selama ini mereka kenal secara daring. Kondisi itu membuat korban M khawatir terhadap dampak sosial dari identitas palsu tersebut.
“Saya tidak tahu apa yang bakal dilakukan korban kalau semisal saya keluar nantinya,” ujarnya.
Ia khawatir para pria korban penipuan akan mengira ia sebagai sosok di balik hubungan tersebut. Padahal, ia mengaku tidak pernah bertemu dengan pria-pria tersebut. Ia juga membantah pernah memiliki hubungan dengan pria dari Lombok, Bali, atau Jakarta.
Jejak Mengarah ke Lombok
Penelusuran perempuan tersebut kemudian mengarah ke sejumlah akun yang dugaannya berada di Lombok. Ia menemukan banyak teman akun Facebook tersebut berasal dari Nusa Tenggara Barat.
Beberapa orang yang berinteraksi dengan akun tersebut juga mengaku berasal dari Lombok. Akun tersebut juga mengaku pernah kuliah di Bali dan pulang ke Lombok.
Namun, perempuan asal Jambi itu meragukan kebenaran informasi tersebut. Ia kemudian menemukan hubungan dengan seseorang yang namanya Alvin dalam akun Facebooknya.
Menurut penelusurannya, beberapa unggahan akun Alvin dan akun “Seftia Febrianti” memiliki keterkaitan.
Korban M juga mencatat adanya sejumlah akun Mobile Legends yang terkait dengan Alvin. Ia menduga Alvin menggunakan identitas visualnya.
Dugaan itu semakin kuat setelah ia menemukan foto pribadinya pada sejumlah akun yang terkait dengan Alvin. Ia juga menduga akun milik mantan istri Alvin menjadi salah satu sumber foto.
Perempuan itu mengaku pernah berkomunikasi dengan akun mantan istri Alvin tersebut untuk urusan pekerjaan lepas. Ia bahkan pernah bertukar kontak dan bermain Mobile Legends bersama akun tersebut.
“Selama ini, sejak 2020 ke atas, Alvin mendapatkan foto saya dari Instagram, mungkin masuk menggunakan akun istrinya, karena aku follow akun istrinya,” katanya.
Laporan Belum Mendapat Respons
Perempuan tersebut mengaku sudah melaporkan kasus itu kepada sejumlah pihak. Ia menyebut telah mengirim laporan ke Kepolisian Reskrim Bidang Siber dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK)
Namun, ia mengaku belum mendapat respons hingga 8 September 2026. Korban mencatat laporan tersebut masih menunggu tindak lanjut.
Ia berharap aparat segera mengusut pihak yang bertanggung jawab. Ia juga meminta platform digital menghapus seluruh konten yang menggunakan identitasnya.
“Saya berharap pelakunya cepat diadili,” katanya.
Kasus ini memperlihatkan sisi lain kejahatan identitas digital. Pencurian foto dapat berkembang menjadi pembentukan persona palsu dalam waktu panjang.
Ketika persona itu pelaku gunakan untuk mencari uang, dampaknya tidak hanya menimpa korban asli. Orang-orang yang berinteraksi dengan identitas palsu juga berpotensi mengalami kerugian.
Karena itu, perempuan tersebut meminta publik lebih berhati-hati menghadapi identitas di ruang digital. Ia berharap kasusnya menjadi peringatan tentang panjangnya dampak penyalahgunaan identitas.
“Saya berharap keamanan kita sebagai perempuan juga terjaga,” ujarnya.
Hingga kini, dugaan keterlibatan pihak tertentu masih membutuhkan pembuktian melalui proses investigasi. Keterangan para korban dan jejak digital dapat menjadi bagian penting dalam pengungkapan kasus tersebut. (*)




