Infrastruktur Rusak di Bima Pemicu Kecelakaan
Bima (NTBSatu) – Kritisnya kondisi infrastruktur jalan dan jembatan di Kabupaten Bima kembali memicu kecelakaan lalu lintas. Sebuah mobil pikap AP bernomor polisi EA 8417 YI terperosok dan jatuh ke dasar sungai saat melintasi kawasan Jembatan Waworada, Kecamatan Langgudu, Kamis, 10 September 2026 lalu, sekitar pukul 17.30 WITA. Insiden ini mempertegas ancaman nyata dari minimnya perawatan serta rekonstruksi akses jalan di daerah tersebut.
Kepala Desa Waworada, Dahlan, mengonfirmasi terjadinya kecelakaan tunggal yang menimpa armada pengangkut pupuk tersebut. Kendaraan yang melaju dari arah barat menuju Kecamatan Lambu itu hilang kendali akibat medan jalan di area jembatan yang licin dan rawan.
“Iya. Memang benar terjadi kecelakaan di Jembatan Waworada kemarin,” kata Dahlan saat memberikan konfirmasi terkait insiden tersebut, Jumat, 11 September 2026.
Mobil tersebut membawa beban 30 sak pupuk yang dibeli dari Kecamatan Langgudu. Saat melintas, ban kendaraan mengalami selip hingga akhirnya keluar dari badan jalan, terguling, dan jatuh ke sungai di bawah jembatan.
Beruntung, pengemudi, Arif Rahman (42) merupakan warga asal asal Desa Rato, Kecamatan Bolo, selamat tanpa mengalami luka-luka. Warga lokal bersama para pengguna jalan langsung turun tangan mengevakuasi mobil menggunakan bantuan kendaraan truk dump.
“Kendaraan berhasil warga tarik hingga naik dari tempat jatuhnya itu sekitar pukul enam sore hari. Alhamdulillah berkat gotong royong dari masyarakat,” ujar Dahlan menambahkan.
Keterbatasan Anggaran
Kecelakaan ini merupakan cerminan dari persoalan besar infrastruktur yang membelit Kabupaten Bima. Menanggapi kondisi fasilitas publik yang berisiko tinggi ini, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bima, Taufik, sebelumnya angkat bicara mengenai kondisi sejumlah jembatan di Kabupaten Bima. Ia mengaku, dengan keadaan fiskal daerah saat ini, pihak pemerintah daerah tidak sanggup melakukan rekonstruksi skala besar akibat keterbatasan alokasi biaya.
Bahkan, keterbatasan anggaran ini membuat perbaikan dua jembatan vital yang terputus total. Di antaranya adalah di Dusun Jala, Desa Ngembe, Kecamatan Bolo dan Desa Rite, Kecamatan Ambalawi masih terbengkalai. Taufik mengungkapkan, biaya pembangunan ulang jembatan membutuhkan alokasi dana yang sangat masif.
“Jembatan putus pun kita enggak cukup uang untuk menanganinya. Karena untuk melakukan pembangunan kembali, rekonstruksi kembali jembatan putus, itu butuh biaya yang mahal,” jelas Taufik.
Menurutnya, penanganan satu jembatan saja memerlukan anggaran berkisar antara Rp10 miliar hingga Rp20 miliar, menyesuaikan dengan struktur serta lebar sungai di lokasi penanganan. (*)




