Menjelajah Sasak Ende, Kampung Adat yang Masih Hidupkan Tradisi Leluhur
Lombok Tengah (NTBSatu) – Di tengah perkembangan pariwisata Lombok, Kampung Sasak Ende di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, masih mempertahankan kehidupan adat dan budaya masyarakat Sasak.
Pemandu lokal Sasak Ende, Yoga Irham, mengatakan masyarakat mulai membangun kampung tersebut pada 1998. Pemerintah kemudian menetapkannya sebagai destinasi wisata pada 2001.
Saat ini, sekitar 175 warga dari 35 kepala keluarga tinggal di kampung tersebut. Mereka tetap menjalankan aktivitas sehari-hari dengan memegang adat dan budaya leluhur.
“Yang masih kita lestarikan di kampung ini adalah bagaimana bentuk adat, kemudian aktivitas-aktivitas budaya yang masyarakat kami memang masih tetap tinggal dan hidup di kampung ini,” kata Yoga kepada NTBSatu beberapa waktu lalu.
Bale Tani Ajarkan Rasa Hormat
Salah satu daya tarik Sasak Ende yakni Bale Tani, rumah tradisional masyarakat Sasak. Rumah ini memiliki tiga bagian dengan fungsi berbeda.
Bagian dalam menjadi ruang bagi perempuan dan anak gadis. Sementara bagian luar menjadi tempat menerima tamu dan tempat laki-laki beraktivitas.
Bentuk rumah juga menyimpan filosofi. Masyarakat sengaja membuat bagian depan Bale Tani rendah agar tamu menundukkan kepala ketika masuk.
Menurut Yoga, bentuk tersebut mengajarkan penghormatan kepada pemilik rumah.
“Rumah ini mengajarkan bahwa terapkan rasa hormat dulu, baru kita bisa bertamu ke rumah orang,” ujarnya.
Pawon hingga Lantai Tanah
Sama seperti desa Sade, masyarakat Ende menggunakan material alami seperti kayu, bambu dan alang-alang untuk membangun rumah adat.
Mereka juga menggunakan tanah liat sebagai lantai. Secara berkala, warga mengoleskan kotoran sapi atau kerbau pada lantai tersebut.
Yoga menyebut masyarakat Sasak menganggap kotoran sapi atau kerbau sebagai “semen pertama”. Bahan tersebut sekaligus menjadi simbol kerja keras karena sapi membantu petani membajak sawah.
Keunikan lain terdapat pada pawon atau dapur. Warga biasanya menempatkan dapur terpisah dari rumah utama dan masih memasak menggunakan tungku serta kayu bakar.
Menurut Yoga, pemisahan tersebut membantu mengurangi risiko kebakaran karena material rumah adat mudah terbakar.
”Jadi, api tidak mudah mengenai rumah utama,” jelasnya.
UMKM dan Seni Budaya Tetap Hidup
Sasak Ende juga menggerakkan ekonomi warga melalui UMKM. Masyarakat menyediakan enam titik berjualan makanan tradisional bagi wisatawan.
Pengunjung dapat menemukan manisan, dadar gulung, dan jajanan khas lainnya.
Wisatawan juga bisa menikmati tenunan dan kerajinan tangan serta menyaksikan tari dan musik tradisional di sanggar seni.
“Setiap rombongan atau tamu-tamu kami yang hadir di Ende, kami biasanya melakukan pagelaran budaya, seperti Gendang Beleq atau peresean, ” kata Yoga.
Sasak Ende pun menawarkan pengalaman wisata yang lebih dari sekadar melihat rumah adat. Wisatawan dapat menyaksikan langsung masyarakat Sasak menjaga tradisi, menjalankan aktivitas sehari-hari dan menghidupkan budaya leluhur. (*)




