Buntut Kasus Kematian Mahasiswi Unram, Kaling Gomong Sakura Desak Para Pemilik Kos Pasang CCTV
Mataram (NTBSatu) – Kasus kematian mahasiswi Universitas Mataram (Unram), Nadya Dwi Ramadhany, Minggu malam, 17 Mei 2026, mengungkap fakta lain. Kos tempat tinggal korban satu pun tak terpasang kamera pengawas atau CCTV. Alih-alih di gang yang menghubungkan kos-kosan lainnya, juga tanpa kamera pengawas.
Kepala Lingkungan (Kaling) Gomong Sakura, HM. Bahaudin angkat bicara, menyoroti lemahnya sistem pengamanan pada bisnis indekos di lingkungannya. Termasuk, sistem hunian yang membebaskan laki-laki dan perempuan.
“Banyak kos-kosan di sini itu bebas. Pemilik kos tidak tinggal di tempat, jarang juga yang mempunyai penjaga,” tutur Aji, sapaannya, kepada NTBSatu, Rabu, 20 Mei 2026.
Aji menegaskan, jumlah penduduk asli di lingkungannya relatif sedikit. Hanya saja, karena lokasinya dekat dengan kampus, lingkungannya cenderung banyak mahasiswa.
“Kalau warganya di sini cuma sedikit. Tetapi kosnya banyak, mahasiswa padat di sini, sulit untuk kita akomodir semua,” imbuhnya.
Minimnya penjagaan dan terbatasnya sarana prasarana yang mendukung, membuat Aji tidak bisa berbuat banyak. “Di sini sudah banyak laporan kehilangan barang di kos-kosan,” ungkpanya.
Harapan Aji, semua kos-kosan yang ada di lingkungan memasang CCTV untuk keamanan. Menyiasati sulitnya pengaturan ronda malam, sebab banyak warga sibuk bekerja sebagai ASN.
“Di sini juga sulit untuk buat jadwal ronda malam, karena kebanyakan warga profesinya PNS,” ujarnya.
Dorong Pokir Dewan untuk CCTV
Sebagai solusinya, selain mewajibkan pemilik kos memasang CCTV secara mandiri. Pihak lingkungan juga tengah mengejar, realisasi bantuan pengadaan kamera pengawas di jalan-jalan utama melalui dana Pokok-pokok Pikiran (Pokir) dewan.
“Jalan utama saya minta dipasang (CCTV) lingkungan. Kemarin minta disediakan untuk empat titik di jalan utama. Itu yang dikejar terus untuk ke depannya,” jelas Aji.
Aji menyatakan, telah melakukan penertiban dan pemantauan berkala secara mandiri. “Saya biasanya ronda malam itu sendiri, jadi masih sulit untuk menjangkau semuanya. Tidak ada anggota (Poskamling), benar-benar inisiatif saya sendiri,” kata Aji.
Ia menyatakan, hal tersebut merupakan tantangan tersendiri dalam memastikan keamanan di lingkungannya. “Sulit untuk ajak warga karena besoknya banyak yang bekerja, kalau kita mau sewa orang dari luar juga kan butuh biaya yang tidak sedikit,” keluhnya.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, ia meminta adanya sinergi yang lebih ketat antara pihak kepolisian (Kamtibmas), kelurahan, dan perangkat pemerintahan setempat untuk mengawasi bisnis kos-kosan ini.
“Harapan saya, pihak dari kepolisian, dari Kamtibmas, kelurahan, pemerintahan, itu harus bekerja sama sama kepala lingkungan,” tutup Aji. (Ashri)




