Musim Kemarau, Peternak Sumbawa Diminta Waspadai PMK hingga Rabies
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Kabupaten Sumbawa meminta peternak meningkatkan perhatian terhadap ternak selama musim kemarau.
Selain memenuhi kebutuhan pakan dan air, peternak juga perlu mengantisipasi penyakit hewan menular strategis yang masih mengancam Sumbawa.
Kepala Disnakkeswan Kabupaten Sumbawa, Saifuddin, S.P., melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan sekaligus Pejabat Otoritas Veteriner Kabupaten Sumbawa, drh. Rini Handayani, M.Si., mengatakan Sumbawa termasuk daerah endemis sejumlah penyakit hewan.
“Jadi, Sumbawa memang daerah endemis beberapa penyakit hewan menular strategis. Kita termasuk daerah tertular SE atau penyakit ngorok. Kemudian, kita juga daerah endemis antraks, tetapi hanya di beberapa titik,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 3 September 2026.
Selain SE dan antraks, Sumbawa juga menghadapi ancaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena masyarakat masih banyak menerapkan sistem pemeliharaan ternak secara ekstensif tradisional.
Peternak Diminta Perhatikan Pakan dan Air
Rini menjelaskan, sistem ekstensif membuat peternak melepas ternak untuk mencari pakan. Pola tersebut terkadang membuat peternak tidak rutin mengecek kondisi hewan.
Karena itu, ia meminta peternak meluangkan waktu untuk memantau ternak. Peternak juga perlu memastikan ketersediaan pakan dan air, terutama saat musim kemarau.
“Di waktu-waktu sekarang, kami mohon peternak lebih memperhatikan ternaknya. Ternak membutuhkan minum dan makan yang cukup, sama seperti makhluk hidup yang lain,” katanya.
Perhatian tersebut juga membantu peternak mengenali perubahan kondisi ternak sejak awal. Dengan begitu, peternak dapat segera mengambil langkah ketika menemukan tanda gangguan kesehatan.
Rabies Ikut Mengancam
Selain penyakit yang menyerang ternak, Rini mengingatkan masyarakat terhadap ancaman rabies. Sumbawa juga termasuk daerah tertular rabies.
Hewan Penular Rabies (HPR) mencakup anjing, kucing, kera, dan hewan berdarah panas lainnya. Namun, anjing mendominasi sekitar 99 persen HPR yang menjadi perhatian.
“Rabies ditularkan oleh hewan penular rabies, terutama anjing liar yang mungkin muncul di sekitar pemeliharaan ternak yang dilepasliarkan. Maka, kita juga harus waspada terhadap ancaman rabies ini,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan keberadaan HPR di sekitar lingkungan. Peternak juga perlu meningkatkan pengawasan ketika melepas ternak agar dapat mengantisipasi kontak dengan HPR.
Rini menjelaskan, petugas memberikan vaksin SE, antraks, dan PMK kepada ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, dan kambing. Sementara itu, petugas memberikan vaksin rabies kepada HPR.
Perbaiki Manajemen Pemeliharaan
Rini juga mendorong peternak memperbaiki manajemen pemeliharaan. Menurutnya, peternak perlu mengelola usaha secara lebih serius jika ingin memperoleh hasil maksimal.
“Kalau ingin kita berbisnis untuk mendapatkan hasil yang maksimal, kita harus meluangkan waktu untuk beternak secara baik dan benar. Terutama dalam memberikan perhatian terhadap bagaimana ternak-ternak ini bisa hidup sejahtera,” katanya.
Selain pakan dan air, peternak perlu memperhatikan kesejahteraan hewan. Rini menjelaskan peternak perlu memenuhi kebutuhan dasar ternak dan menjaga hewan dari rasa lapar, sakit, serta tekanan.
“Kalau kita perlakukan mereka dengan sesuai dan baik, pasti kita akan mendapatkan hasil yang diharapkan,” ujarnya.
Dengan pola pemeliharaan yang lebih baik, peternak dapat menjaga kesehatan ternak sekaligus meningkatkan produktivitas. Langkah tersebut juga penting untuk menjaga sektor peternakan Sumbawa tetap berkembang di tengah tantangan musim kemarau. (*)




