Rekonstruksi Sade Padukan Arsitektur Tradisional dengan Sistem Keamanan Modern
Lombok Tengah (NTBSatu) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah memastikan rekonstruksi kawasan adat Sade pascakebakaran, tetap mempertahankan nilai historis dan karakter arsitektur tradisional.
Namun, pemerintah juga akan memasukkan sistem keamanan modern untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri mengatakan, percepatan pembangunan tetap menjadi perhatian karena masyarakat membutuhkan tempat tinggal dan aktivitas ekonomi kembali berjalan. Meski begitu, proses rekonstruksi tidak boleh menghilangkan identitas Sade.
“Walaupun seperti itu, nilai-nilai historisnya harus kita jaga. Karena untuk keberlanjutan generasi-generasi penerus kita di masa depan,” kata Pathul, Kamis 3 September 2026.
Menurutnya, sejumlah elemen tradisional seperti atap alang-alang, pagar, hingga tembok setengah bata tetap akan masuk pertimbangan dalam desain bangunan baru.
Di sisi lain, aspek keselamatan akan mendapat perhatian lebih besar. Salah satunya menyangkut sistem kelistrikan di kawasan tersebut.
“Bagaimana melestarikan atap alang-alang, bagaimana pagar dan lain sebagainya, tembok setengah bata misalnya, sehingga ini yang terbaik untuk masyarakat,” ujarnya.
Serahkan Konsep ke Unram
Pathul mengatakan, konsep rekonstruksi telah diserahkan kepada Universitas Mataram (Unram). Pemerintah mempercayakan kajian teknis kepada akademisi dan para ahli agar pembangunan tetap sesuai dengan kebutuhan kawasan adat sekaligus memenuhi aspek keamanan.
“Kita percayakan kepada akademisi, para ahli-ahli ini,” katanya.
Salah satu sistem keamanan yang masih dalam pengkajian yakni pemasangan water sprinkler pada bangunan. Pathul mengatakan, sistem tersebut belum final karena masih membutuhkan pembahasan teknis bersama PLN.
“Semprotan yang di atas ini masih dipikirkan secara teknis oleh PLN,” jelasnya.
Selain sprinkler, pemerintah juga mempertimbangkan penggunaan kabel bawah tanah dalam penataan instalasi listrik di kawasan Sade.
Menurut Pathul, rekonstruksi tidak cukup hanya mengembalikan bentuk bangunan seperti sebelum kebakaran. Pemerintah ingin menjadikan proses tersebut sebagai momentum untuk menggabungkan warisan budaya dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
“Zaman dulu dan zaman sekarang penting untuk bersatu padu,” ujarnya.
Pathul juga mengatakan, pemerintah menyiapkan pembangunan museum di kawasan Sade. Museum itu nantinya menjadi ruang untuk menyimpan cerita dan berbagai hal yang berkaitan dengan sejarah Sade, termasuk pengalaman masyarakat setelah kebakaran.
“Supaya story-nya tidak hilang,” katanya.
Ia berharap, pembangunan kembali Sade dapat menjaga identitas budaya sekaligus memberikan lingkungan yang lebih aman bagi masyarakat dan wisatawan.
“Nilai-nilai historisnya harus tetap kita jaga,” tandas Pathul.(*)




