Hukrim

Pimpinan Ponpes di Lombok Tengah Ancam Laporkan Alumni Santri karena Diduga Lakukan Pelecehan

Mataram (NTBSatu) – Pimpinan Ponpes Abul Barokat Wannafahat Bunkate, Lombok Tengah, H Muhammad Imanuddin Sumar akan menempuh jalur hukum terhadap seorang santri bernama Yusron dan BBC News. Hal itu berkaitan dengan pemberitaan berjudul “Aib Sang Guru” yang menyeret persoalan pribadi dirinya.

Imanuddin menilai tuduhan yang berkembang bersumber dari draf teks yang dibuat secara sepihak tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi atau tabayun kepadanya.

“Atas penyebaran tuduhan tidak benar yang merugikan nama baik saya, saya menyatakan akan mengambil langkah hukum dan melaporkan saudara Yusron kepada pihak berwajib,” tegasnya saat konferensi pers di Hotel Kautaman, Kota Mataram ditemani pengacaranya, Yuda Aditia Maatfa pada Rabu, 23 September 2026.

IKLAN

Menurutnya, draf tersebut kemudian menjadi sumber berkembangnya sangkaan terhadap pribadinya. Ia menilai, isu yang disebarkan belum teruji kebenarannya.

“Seluruh sangkaan yang berkembang bersumber dari draf teks yang dibuat secara sepihak oleh yang bersangkutan tanpa melalui proses Tabayyun terlebih dahulu dengan saya, melainkan langsung menyebarkan isu-isu yang belum teruji kebenarannya,” katanya.

Akan Laporkan BBC News

IKLAN

Tak hanya Yusron, Imanuddin juga menyatakan akan mengambil langkah hukum terhadap BBC News. Ia mempersoalkan pemberitaan “Aib Sang Guru” yang menurutnya tidak berimbang.

Menurutnya, pemberitaan tersebut bersifat sepihak dan tidak berimbang serta menimbulkan kerugian terhadap dirinya.

“Keputusan ini saya ambil karena pemberitaan tersebut bersifat sepihak (unbalanced), tidak berimbang. Serta secara nyata telah menimbulkan kerugian materil maupun immateriil yang sangat besar bagi pribadi saya,” bebernya.

Imanuddin juga membantah rekaman suara dirinya yang ditayangkan dalam pemberitaan tersebut sebagai sebuah pengakuan.

“Terkait rekaman suara saya yang ditayangkan dalam pemberitaan tersebut, saya tegaskan bahwa rekaman tersebut bukanlah sebuah pengakuan,” bebernya.

Ia menjelaskan, percakapan dalam rekaman tersebut menurut versinya merupakan bagian dari upaya tabayun yang dilakukan bersama Yusron dan sejumlah santri yang disebut sebagai pihak yang diduga menjadi korban.

“Maksud dan tujuan dari pembicaraan dalam rekaman itu adalah upaya Tabayyun (klarifikasi) langsung yang saya lakukan bersama saudara Yusron dan santri-santri yang diduga menjadi korban,” katanya.

Imanuddin menyebut upaya tersebut dilakukan secara persuasif untuk menepis isu yang menurutnya berkembang di tengah publik.

Mundur dari Jabatan di Ponpes

Di tengah persoalan tersebut, Imanuddin juga menyatakan mundur dari seluruh jabatan yang diembannya di Pondok Pesantren Abul Barokat Wannafahat Bunkate dan pesantren lainnya.

Keputusan itu, menurutnya, diambil agar aktivitas belajar-mengajar di pondok pesantren tetap berjalan normal dan tidak terganggu persoalan pribadi yang tengah dihadapinya.

“Guna merespons situasi yang viral saat ini, serta demi menjamin seluruh aktivitas belajar-mengajar di pondok pesantren tetap berjalan normal tanpa gangguan, saya mengambil keputusan besar, dengan hati yang ikhlas untuk mundur dan melepas semua jabatan saya di pondok pesantren abul barokat wannafahat Bunkate dan di ponpes yang lainnya,” bebernya.

Ia kembali menegaskan persoalan yang dihadapinya tidak berkaitan dengan institusi pesantren yang dipimpinnya. Imanuddin juga mengaku siap menghadapi proses hukum yang sedang berjalan.

“Sebagai warga negara yang menghormati supremasi hukum, saya nyatakan siap menghadapi sendiri seluruh proses hukum yang sedang berjalan demi membuktikan kebenaran yang sesungguhnya secara objektif,” tegasnya. (*)

Artikel Terkait