Sebelum Dilalap Api, Sade Menyimpan Jejak Budaya Sasak hingga 15 Generasi
Lombok Tengah (NTBSatu) – Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Lombok, Dusun Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, merupakan ruang hidup masyarakat Sasak yang mempertahankan adat dan tradisi leluhur secara turun-temurun.
Kini, sebagian besar kawasan tersebut berubah menjadi puing setelah kebakaran hebat melanda permukiman adat Sade pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026.
Kebakaran menghanguskan 150 bangunan, termasuk 89 rumah adat. Polisi masih menyelidiki sumber api, sementara tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Di balik musibah itu, Sade menyimpan sejarah panjang bagi masyarakat Sasak. Tradisi masyarakat Sade telah dipertahankan selama sekitar 15 generasi.
Juru arah sekaligus masyarakat adat Sade, Amaq Epa, sebelumnya mengatakan warga masih mempertahankan bentuk bangunan, adat, hingga tradisi peninggalan leluhur.
“Jadi, kampung kami ini salah satu desa adat yang masih bertahan dan masih mempertahankan bentuk bangunan, adat tradisi, peninggalan dari leluhur kami,” kata Amaq Epa kepada NTBSatu, Sabtu, 9 Agustus 2026.
Bukan Desa Administratif
Meski populer dengan sebutan Desa Sade, kawasan ini sebenarnya merupakan sebuah dusun di wilayah Desa Rembitan.
Kepala Desa Rembitan, Lalu Minaksa menjelaskan, nama Sade merujuk pada dusun yang berada di jalur Praya-Kuta. Posisi tersebut kemudian ikut mendorong Sade berkembang menjadi salah satu tujuan wisata budaya.
Kunjungan wisatawan ke Sade telah berlangsung sejak sekitar 1975. Perkembangannya semakin pesat setelah akses menuju kawasan selatan Lombok semakin terbuka, termasuk setelah beroperasinya Bandara Internasional Lombok pada 2011.
Namun, perkembangan pariwisata tidak serta-merta mengubah Sade menjadi kawasan pertunjukan budaya semata.
Sebelum kebakaran, rumah-rumah tradisional di Sade masih menjadi tempat tinggal masyarakat. Ada sekitar 150 rumah tradisional berdiri di kawasan tersebut dan dihuni masyarakat yang semuanya memiliki hubungan kekerabatan.
Adat yang Bertahan
Amaq Epa mengatakan, hubungan kekerabatan menjadi salah satu hal yang masih terjaga di warga Sade.
“Karena mempertahankan kekerabatan kami di sini, sampai sekarang masih menikah dengan sepupu dan kerabat sendiri,” ujarnya.
Tradisi perkawinan juga memiliki aturan tersendiri. Perempuan Sade tidak melalui proses lamaran seperti masyarakat pada umumnya.
“Ketika kami menikah tidak boleh ada lamaran. Karena kalau anak gadis kami dilamar, menurut kami di sini melanggar adat. Jadi harus dengan cara laki-laki membawa lari atau menculik calonnya,” jelasnya.
Tradisi tersebut yaitu merariq atau kawin lari. Namun, masyarakat Sade membedakan kawin lari dengan kawin culik. Kawin lari dilakukan ketika laki-laki dan perempuan sudah saling menyukai, sedangkan kawin culik memiliki unsur paksaan.
Selain perkawinan, kemampuan menenun juga menjadi bagian penting dari kehidupan perempuan Sade.
Warga sekaligus pemandu wisata Sade, Inaq Epin mengatakan, perempuan di Sade wajib menguasai keterampilan menenun sebelum menikah.
“Kalau perempuan sini tidak bisa menenun, tidak boleh nikah di sini. Itu persyaratan wajibnya perempuan,” katanya.
Rumah yang Menjadi Identitas
Salah satu jejak budaya paling mudah untuk mengenal Sade adalah rumah tradisionalnya. Warga sekaligus pemandu wisata Sade, Wahyu menyebut, rumah tradisional masyarakat setempat sebagai Bale Tani atau Bale Gunung Rate.
“Bale Gunung Rate itu rata semua. Tidak ada yang jadi raja atau apa. Jadi kalau jadi kepala suku pun rata,” katanya.
Rumah tradisional tersebut dibangun menggunakan material yang tersedia di lingkungan sekitar, seperti bambu, kayu, tanah liat dan alang-alang.
Bentuknya tidak hanya menjadi identitas arsitektur, tetapi juga bagian dari tata kehidupan masyarakat. Masyarakat juga secara tradisional membersihkan lantai rumah menggunakan kotoran sapi atau kerbau.
Amaq Epa mengatakan, warga biasanya mengepel lantai sekitar satu kali dalam sepekan. Selain memperkuat lantai tanah dan menutup retakan, tradisi itu masyarakat percayai sebagai bagian dari tolak bala.
“Kalau sudah kita pel pakai kotoran sapi, retak-retaknya bisa tertutup. Terus sebagai tolak bala,” ujarnya.
Kini Tinggal Menjaga yang Tersisa
Kebakaran yang terjadi Sabtu malam mengubah wajah kawasan yang selama puluhan tahun menjadi salah satu simbol budaya Sasak di Lombok.
Api cepat menjalar karena permukiman terbuat dari material mudah terbakar. Petugas juga menghadapi kesulitan mencapai bagian tengah permukiman karena bangunan berdiri rapat.
Meski sebagian besar bangunan adat mengalami kerusakan berat, sejarah Sade tidak hanya tersimpan pada rumah-rumahnya.
Ia juga hidup dalam ingatan masyarakat, hubungan kekerabatan, tradisi perkawinan, keterampilan menenun, serta adat yang diwariskan dari generasi ke generasi.(*)




