Kota Mataram

Jempong Masa Lalu, Pusat Kejayaan Cidomo di Mataram Kini Tergerus Zaman

Bagi generasi sekarang, Jempong dilihat sebagai area pemukiman padat. Namun, dalam lembar sejarah transportasi tradisional Lombok, Jempong merupakan pusat kejayaan cidomo. Dari Jempong hingga kawasan Ampenan, derap kaki kuda adalah musik harian yang mendominasi jalanan.

Ashri Rahmatia – Mataram

Kenangan kejayaan itu masih terekam jelas dalam ingatan mantan kusir cidomo, Kasful Anwar alias Wen. Ia mengatakan, Jempong merupakan kawasan dengan cidomo terbanyak daripada beberapa kawasan lain.

“Di seluruh Mataram ini, di Jempong yang paling banyak dulu cidomo. Paling banyak. Dibanding Pagesangan atau Sweta, kita tidak kalah,” ucapnya kepada NTBSatu, kemarin.

IKLAN

Pada masa kejayaannya, populasi cidomo yang berbasis di Jempong perkiraannya mencapai dua ratus unit. “Dulu itu hampir dua ratusan, kalau Pagesangan memang jalurnya, yang banyak cidomo dulu di Ampenan,” jelasnya.

Kusir cidomo yang masih aktif, Sahruji menjelaskan, kawasan ini menjadi pemasok utama armada angkutan tradisional yang melayani mobilitas warga kota. Mulai dari pelajar, mahasiswa beberapa kampus di Kota Mataram hingga para pedagang pasar.

“Di pinggir jalan depan ini (Jalan Gajah Mada), tempat kita parkir, itu sepanjang jalan cidomo semua,” ujarnya.

IKLAN

Pemandangan Jempong puluhan tahun lalu juga sangat khas dengan keberadaan kandang-kandang kuda komunal di sepanjang pinggiran sungai. “Apalagi dekat sungai itu kandangnya itu ada banyak, sekarang cuman satu orang saya lihat di sana,” imbuh Sahruji.

Saat ini, ruang gerak mereka semakin terjepit akibat menjamurnya sepeda motor dan ojek. Armada cidomo yang tersisa kini hanya bisa terlihat di pasar-pasar tradisional di Kota Mataram.

“Sekarang di pasar-pasar saja, ada di Pasar Pagesangan. Paling jalurnya ke Sweta, ke Karang Anyar, ke Taman, ke Punia, udah itu saja,” jelas Sahruji.

Meski dihimpit modernisasi, segelintir warga Jempong menolak gulung tikar karena ikatan emosional dan tradisi yang mendalam terhadap profesi ini.

“Soalnya saya dari keturunan sudah hobi kuda. Kalau kita tidak hobi sekarang ini, lebih baik kita jadi peladen (tukang bangunan) sekarang dapat gaji Rp100 ribu. Tetapi bertahan karena saking hobinya itu sama cidomo kuda ini,” tutupnya. (Ashri) 

Artikel Terkait

Back to top button