Pendidikan

Proyek DAK Belum Rampung, 13 Rombel SMAN 7 Mataram Terpaksa Masuk Siang

Mataram (NTBSatu) – Proyek pembangunan fisik melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) 2024 di SMAN 7 Mataram belum sepenuhnya rampung, meskipun progres pengerjaan telah mencapai 98 persen. Akibat keterlambatan tersebut, sebanyak 13 rombongan belajar (rombel) masih harus menjalani kegiatan belajar pada siang hari karena keterbatasan ruang kelas.

Wakil Kepala Sarana dan Prasarana SMAN 7 Mataram, Lalu Wire Bakti mengatakan, target proyek DAK tersebut sejatinya selesai pada Desember 2024. Namun hingga kini, masih terdapat sisa pekerjaan yang belum selesai.

“Kalau progresnya sebenarnya sudah mencapai 98 persen. Tinggal dua persen lagi yang harus diselesaikan, tetapi sejak akhir tahun 2025 itu belum ada perkembangan lagi,” ujarnya kepada NTBSatu, Senin, 18 Mei 2026.

IKLAN

Ia menjelaskan, proyek DAK di sekolah tersebut meliputi rehabilitasi empat ruangan, pembangunan lima Ruang Kelas Baru (RKB). Serta, ruang OSIS dan ekstrakurikuler.

“Pertama itu rehab, ada empat ruangan. Kemudian ada RKB, itu ada lima ruangan. Dan ruang OSIS dan ekstrakurikuler,” jelasnya

Menurutnya, sisa pekerjaan yang belum rampung sebenarnya tidak terlalu banyak. Namun, keterlambatan penyelesaian tetap berdampak langsung terhadap aktivitas belajar mengajar di sekolah.

IKLAN

“Padahal pekerjaannya tinggal sedikit, hanya menutup kekurangan-kekurangan kecil saja,” katanya.

Sebagian Siswa Masuk Siang

Lalu Wire Bakti menuturkan, keterbatasan ruang kelas membuat pihak sekolah harus memberlakukan sistem masuk siang bagi sebagian siswa. Saat ini SMAN 7 Mataram memiliki 36 rombel, sementara jumlah ruang kelas yang tersedia belum mencukupi.

“Kita punya 36 rombel, tetapi ruang yang tersedia belum cukup. Jadi yang masuk siang itu ada 13 rombel,” jelasnya.

Ia mengatakan, kondisi tersebut terjadi karena sebagian ruang sebelumnya masih dalam proses perbaikan dan belum dapat sekolah gunakan secara optimal. “Ini jadi permasalahan. Kalau semuanya selesai, siswa bisa masuk pagi semua,” ujarnya.

Terkait penyebab keterlambatan, ia menyebut, proyek sempat terkendala persoalan pembayaran dan pelaksanaan tender. Meski demikian, menurutnya pembayaran kini sudah tersedia dan proyek tinggal menunggu penyelesaian akhir.

“Kemarin sempat tertunda pembayaran, tetapi kayaknya sudah dibayar sekarang,” katanya.

Ia menambahkan, pihak terkait telah beberapa kali meninjau proyek tersebut. Mulai dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora), Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD), hingga anggota dewan.

Lalu Wire Bakti berharap, sisa pekerjaan segera tuntas agar fasilitas dapat pihak sekolah gunakan pada tahun ajaran baru mendatang. “Harapan kami tentu diselesaikan secepatnya supaya bisa dipakai tahun ajaran baru ini,” tutupnya. (Caca)

Artikel Terkait

Back to top button