LingkunganLombok Barat

Bak Beton Sederhana Jadi Tumpuan Air, Warga Gerebekan Desak Pemkab Bangun Sumur Bor

Mataram (NTBSatu) – Krisis air bersih masih membayangi kehidupan warga Dusun Gerebekan, Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar, Lombok Barat.

Warga RT 04 setiap hari bergantung pada bak penampungan beton sederhana untuk memenuhi kebutuhan air. Saat musim kemarau datang, persediaan air hujan dalam bak tersebut habis sehingga warga terpaksa membeli air dengan harga cukup mahal.

IKLAN

Hingga awal Agustus 2026, kawasan tersebut belum memiliki jaringan layanan air bersih. Sebagian besar keluarga juga belum mempunyai sumur pribadi. Kondisi itu membuat aktivitas sehari-hari bergantung pada air hujan yang tertampung sejak musim penghujan.

Memasuki musim kemarau, cadangan air terus menyusut hingga akhirnya habis. Tanah di sekitar pemukiman mulai retak akibat cuaca kering yang berlangsung cukup lama.

Beli Air Puluhan Ribu

Kebutuhan air sehari-hari memaksa warga mengeluarkan biaya tambahan. Mereka membeli air dari sumur bor milik warga lain seharga Rp75 ribu untuk satu bak penampungan. Sementara kebutuhan air minum terpenuhi melalui pembelian air galon keliling seharga Rp8 ribu per galon.

Salah seorang warga RT 04 Dusun Gerebekan, Sopiana menjelaskan, bak beton sederhana hanya berfungsi sebagai tempat penampungan air hujan.

“Kami menggunakan penampungan ini untuk menampung air hujan. Kalau air habis, kami harus membeli air sumur bor,” ujar Sopiana, Selasa, 4 Agustus 2026.

Masalah tidak berhenti pada harga air yang mahal. Warga juga harus menunggu lama karena armada pengangkut air memiliki jumlah terbatas. Akibatnya, antrean pengiriman sering berlangsung hingga beberapa pekan.

“Kami harus mengantre berpekan-pekan sampai pengirim membawa air,” katanya.

Kondisi tersebut memaksa sebagian warga mencari alternatif. Beberapa keluarga berpindah ke lokasi lain untuk memperoleh air, sementara sebagian lainnya mencuci pakaian di bendungan terdekat agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi.

Minta Sumur Bor

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Barat bersama tim gabungan menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki pada Selasa pagi, 4 Agustus 2026. Bantuan tersebut membantu warga memenuhi kebutuhan mendesak, tetapi belum mampu mengatasi persoalan secara menyeluruh.

Satu mobil tangki hanya membawa sekitar 1.100 liter air. Jumlah tersebut harus terbagi untuk seluruh warga dusun. Petugas kemudian menetapkan jatah sebanyak tiga ember untuk setiap Kartu Keluarga.

“Pagi tadi kami dapat bantuan air tiga ember per KK. Jatah itu langsung habis dalam sehari untuk memasak,” ujar Sopiana.

Keterbatasan pasokan membuat warga sangat menghemat penggunaan air untuk mandi, mencuci, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya. Mereka berharap kondisi tersebut tidak terus berlangsung setiap musim kemarau.

Warga meminta Pemerintah segera memetakan sumber air yang berpotensi memenuhi kebutuhan masyarakat. Mereka juga berharap pemerintah membangun sumur bor dalam sebagai solusi jangka panjang agar krisis air tidak terus berulang setiap tahun.

“Pemerintah harus carikan titik air dan buatkan sumur bor di sini. Kami ingin pemerintah menyelesaikannya agar warga tidak sengsara lagi,” tutupnya. (Japriani)

Artikel Terkait