Fakta-fakta Terbakarnya KMP Putri Yasmin di Selat Lombok: 212 Orang Dievakuasi
Mataram (NTBSatu) – Insiden kebakaran Kapal Motor Penumpang (KMP) Putri Yasmin di perairan Selat Lombok pada Rabu, 12 Agustus 2026, mengakibatkan ratusan penumpang menjadi korban. Tim SAR Gabungan berhasil menyelamatkan 212 penumpang dan awak kapal dalam musibah kebakaran tersebut.
Insiden pelayaran rute Pelabuhan Padangbai, Bali menuju Pelabuhan Lembar ini mengungkap sejumlah data dan temuan penting di lapangan. Petugas melakukan penyelamatan secara intensif menyusul kobaran api yang dengan cepat membesar di tengah perairan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Padangbai, Heri Wiyanto, menyatakan jumlah manifes penumpang mencapai 114.
“Total 114 terdiri dari sopir dan penumpang kendaraan sebanyak 44. Penumpang R2 sebanyak 53. Terus penumpang jalan kaki sebanyak 17. Itu yang tercantum di manifes,” katanya pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Jumlah Manifes 114
Dokumen resmi pelayaran sebelum KMP Putri Yasmin bertolak dari Pelabuhan Padangbai mencatat angka manifes awal sebanyak 114 orang. Jumlah ini terdiri atas penumpang umum serta para sopir kendaraan logistik, di luar 17 orang awak kapal (ABK).
Pendataan awal ini sebagai acuan dasar bagi otoritas pelabuhan dan petugas keselamatan saat melepaskan keberangkatan kapal menuju Pelabuhan Lembar. Namun, data tertulis ini kemudian menjadi sorotan utama setelah proses penanganan darurat di lapangan menemukan keadaan yang berbeda.
Tim SAR Evakuasi 173
Menjelang siang, jumlah penumpang yang terevakuasi bertambah dari jumlah manifes sebelumnya. Operasi penyelamatan di tengah perairan Selat Lombok, tim SAR gabungan mendata sebanyak 173 orang berhasil terevakuasi secara bertahap dari lokasi kejadian.
Petugas mendatangkan berbagai armada laut, seperti KN SAR 220 Mataram dan KAL Lembar. Mereka juga memanfaatkan kapal-kapal melintas untuk memindahkan para penumpang dan ABK yang telah meloncat ke laut maupun yang masih bertahan di bagian kapal yang belum terbakar api.
Jumlah Total Penumpang 212
Hasil verifikasi dan pembaruan data akhir oleh Kantor SAR Mataram menunjukkan fakta total korban yang berhasil selamat dari musibah tersebut mencapai 212 orang. Jumlah ini melonjak jauh melampaui angka manifes resmi yang ada pada laporan resmi sebelum berlayar.
Adanya perbedaan angka hingga puluhan orang ini mengindikasikan adanya penumpang yang diduga tidak terdaftar secara resmi dalam dokumen keberangkatan kapal.
Sejumlah Penumpang Masih Hilang
Adanya ketidaksesuaian yang signifikan antara data manifes dan jumlah riil korban selamat membuat petugas mengantisipasi kemungkinan masih adanya penumpang yang belum terdata atau hilang di laut.
Sebagai langkah cepat, Kepolisian Daerah Bali bersama instansi terkait mendirikan Posko Pengaduan Orang Hilang (Disaster Victim Identification/DVI) di Pelabuhan Padangbai. H ini guna menerima laporan masyarakat serta mencocokkan data keluarga yang merasa kehilangan anggotanya.
Mobil Box Terbakar
Berdasarkan hasil pengamatan awal dan keterangan para saksi, titik api diduga kuat bermula dari area dek kendaraan bagian bawah kapal. Kobaran api menjalar dengan cepat dan menghanguskan puluhan armada muatan yang terparkir rapat di dalam dek, termasuk beberapa mobil box logistik, truk barang, serta sepeda motor.
Asal muasal api dan tebalnya asap dari kendaraan yang terbakar tersebut memaksa para penumpang panik dan segera mengenakan baju pelampung.
Pencarian Berlanjut
Tim SAR Gabungan memastikan operasi pencarian dan penyisiran di perairan Selat Lombok terus berlanjut tanpa henti. Petugas mengerahkan kapal-kapal penyelamat untuk menyisir kawasan sekitar titik koordinat kebakaran guna memastikan tidak ada korban yang tertinggal atau terbawa arus.
Pencarian terus berlanjut meskipun tim di lapangan harus bertarung menghadapi tantangan gelombang tinggi dan arus laut yang cukup deras.
KNKT Lakukan Investigasi
Untuk mengusut tuntas penyebab pasti insiden kecelakaan laut ini, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menerjunkan tim khusus ke lokasi kejadian. Para investigator KNKT langsung mengumpulkan barang bukti dari bangkai kapal, memeriksa kelayakan sarana keselamatan, serta menginterogasi pihak pengelola kapal dan saksi kunci.
Hal ini bertujuan untuk mengetahui pemicu awal timbulnya api di dek kendaraan. (*)




