Ekonomi NTB Mulai Bangkit, Pemprov Dorong Kemudahan Ekspor dan Smelter
Mataram (NTBSatu) – Ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai menunjukkan perbaikan setelah sempat turun di awal tahun 2025. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Dr. Wahyudin, MM., menjelaskan, pertumbuhan ekonomi NTB sempat terkontraksi pada triwulan I dan II karena produksi tambang, khususnya biji logam dari PT Amman Mineral Nusa Tenggara, menurun.
“Triwulan I minus 1,43 persen, kemudian triwulan II minus 0,28 persen,” ujar Wahyudin, Senin 23 Februari 2026.
Penurunan ini membuat pertumbuhan ekonomi NTB sepanjang 2025 hanya mencapai 3,22 persen. Meski angka ini tergolong rendah, kondisi mulai membaik di paruh kedua tahun.
Perbaikan ekonomi terjadi ketika Smelter di NTB mulai beroperasi secara bertahap. Mulai April hingga Desember, ekspor tembaga dan emas dari Smelter berjalan, meski kapasitasnya baru sekitar 30–35 persen.
Pemerintah Pusat juga memberikan relaksasi ekspor konsentrat mulai November, sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi positif. Triwulan IV bahkan mencatat kenaikan sekitar 12 persen.
“jika sub-sektor biji logam dikeluarkan, pertumbuhan ekonomi NTB sebenarnya bisa mencapai sekitar 8 persen. Hal ini menunjukkan sektor lain, seperti pertanian, perdagangan, dan industri, tetap kuat meski kontribusi tambang biji logam sangat besar,” tambahnya.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB terus mendorong sektor lain untuk ikut menggerakkan ekonomi. Pertanian menjadi andalan karena memiliki kontribusi terbesar.
Sektor perdagangan dan industri juga terus didorong, termasuk usaha makanan dan minuman. Pariwisata pun berperan penting, karena hampir semua sektor terkait, mulai dari ekonomi kreatif, hotel, restoran, hingga industri lokal.
Program-program pemerintah, seperti MBG (Makan Bergizi Gratis), ikut membantu meningkatkan perputaran ekonomi lokal. Selain memberi manfaat langsung bagi masyarakat, program ini juga mendorong usaha kecil dan menengah tetap bergerak.
Dengan strategi ini, Pemprov NTB berharap pertumbuhan ekonomi tidak hanya mengandalkan tambang, tetapi lebih merata dan berkelanjutan. Wahyudin menekankan, langkah-langkah ini penting agar ekonomi NTB bisa bertahan, bahkan ketika ekspor tambang mengalami perubahan. (Andini)



