Lombok Timur

Kasus Dugaan Penipuan TO Oke Rinjani dengan Empat WNA China Berakhir Damai

Lombok Timur (NTBSatu) – Penyelenggaraan wisata pendakian Gunung Rinjani kembali dihadapkan dengan masalah layanan yang berujung pada jalur hukum, pada Selasa, 14 April 2026.

Empat wisatawan mancanegara asal China, yaitu Bai Zafu, Li Yanje, Xu Fan, dan Than Shanyu melaporkan Trekking Organizer (TO) “Oke Rinjani” dugaan penipuan terhadap paket pendakian dan perlakuan diskriminatif.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha (KSBTU) Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Astekita Ardiaristo menyampaikan, permasalahan ini sudah selesai dengan damai.

“Ya sudah selesai, sudah damai,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 15 April 2026.

Klaim perdamaian yang beredar berbanding lurus dengan perkembangan di ranah kepolisian. Saat ini, polisi berhasil mendamaikan kedua belah pihak.

Kronologi Kejadian

Kejadian ini bermula saat para pendaki berselisih lantaran setiap orang diminta membayar sebesar 75 dollar AS. Bayaran tersebut sebagai biaya tambahan sekaligus agar tidak bergabung dengan kelompok lain.

Namun sejak pendakian dari wilayah Bayan, mereka justru digabungkan dengan grup lain. Ditambah layanan logistik yang dianggap tidak sesuai standar.

“Kami sudah membayar tambahan biaya demi kenyamanan privat, tetapi kenyataannya kami digabung seperti barang dagangan. Bahkan untuk sarapan, kami hanya diberi beberapa lembar roti,” ujar salah satu korban, mengutip akun Facebook Forum Jurnalis Lombok Timur.

Proses mediasi dilakukan di Polsek Sembalun dan sempat berakhir buntu (deadlock). Para wisatawan mengajukan tiga tuntutan, yaitu blacklist, pencabutan izin resmi TO “Oke Rinjani”, dan ganti rugi materiil atas wanprestasi kontrak.

Namun setelah berjalan alot, kesepakatan damai tercapai dengan permintaan maaf dan uang ganti rugi itu langsung diterima keempat WNA sebesar Rp1,8 juta.

Kasus ini menjadi pengingat bagi integritas pariwisata NTB. Kekecewaan para wisatawan akan berdampak pada citra kualitas pengawasan di kawasan konservasi Gunung Rinjani.

Sebelumnya, wisatawan sempat mengancam akan membawa laporan tersebut ke tingkat yang lebih tinggi, termasuk melibatkan Kedutaan Besar China, jika tidak ada penyelesaian masalah yang jelas.

Mereka berharap, kejadian ini bisa memberikan hukuman sekaligus efek jera agar tidak ada lagi oknum agen nakal yang mempermainkan wisatawan mancanegara.

Meski situasi lapangan diklaim terpantau kondusif, tekanan dari pihak korban menunjukkan adanya celah dalam standarisasi layanan pendakian.

Kasus TO “Oke Rinjani” ini dinilai akan berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pariwisata NTB, jika tidak dibenahi secara profesional. (Inda)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button