Tiga SPPG di Sumbawa Dihentikan Sementara Akibat Kasus Keracunan dan Konflik Internal
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Sumbawa, resmi dihentikan sementara operasionalnya. Penghentian ini akibat kasus keracunan makanan di Lunyuk serta konflik internal yayasan dan pengelola di Empang dan Tarano. Akibatnya, dari total 11 SPPG yang sebelumnya beroperasi, kini tersisa delapan unit aktif.
Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia (PPM) Bapperida Sumbawa, Dr. Rusmayadi mengatakan, langkah penghentian bersifat sementara. Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan waktu maksimal satu bulan untuk perbaikan.
“Yang di Lunyuk itu karena sebelumnya terjadi kasus keracunan. Jadi diminta melakukan perbaikan pelayanan. Selama masa perbaikan, operasional dihentikan sementara,” kata Rusmayadi, Jumat, 20 Februari 2026.
Ia menjelaskan, pola evaluasi ini bukan hal baru. Biasanya memang SPPG mendapat waktu maksimal satu bulan untuk pembenahan. Setelah itu, dievaluasi kembali kelayakannya
Sementara itu, persoalan di Empang dan Tarano berbeda. Bukan soal sarana atau kualitas layanan, melainkan konflik internal antara yayasan dan pihak pengelola.
“Kalau Empang dan Tarano, ini persoalan internal antara yayasan dan pengelola. Bukan masalah fasilitas, tetapi konflik internal yang berdampak pada pelayanan,” jelasnya.
Dampak ke Penerima Manfaat
Rusmayadi mengakui, dampak penghentian ini cukup signifikan karena menyentuh masyarakat. Terutama, anak-anak penerima manfaat program pemenuhan gizi.
“Kita dari Satgas berharap persoalan ini segera selesai. Karena kalau tidak operasional, tentu masyarakat yang terdampak,” ujarnya.
Ia menambahkan, Empang sebelumnya juga pernah mengalami kasus serupa. “Empang dulu sempat terjadi keracunan juga, baru satu kali, sama seperti Lunyuk,” ungkapnya.
Pemerintah daerah berharap, proses perbaikan dapat rampung sebelum aktivitas sekolah kembali normal usai Ramadan. Namun, Rusmayadi realistis target tersebut bisa saja meleset.
“Harapan kita, sebelum anak-anak masuk sekolah setelah puasa, semuanya sudah selesai. Tapi mungkin tidak cepat terkejar, bisa jadi selesai setelah Lebaran,” katanya.
Saat ini, pemerintah masih menghitung jumlah pasti penerima manfaat di tiga wilayah tersebut yang terdampak penghentian layanan.
“Belum saya cek secara rinci berapa jumlah penerima di Empang, Tarano, dan Lunyuk. Tapi jelas ada dampaknya,” tambahnya.
Dengan tersisanya delapan dari 11 SPPG yang aktif, Pemkab Sumbawa kini berpacu dengan waktu untuk memastikan pelayanan pemenuhan gizi kembali berjalan normal dan tidak menimbulkan dampak jangka panjang bagi anak-anak penerima manfaat. (Marwah)



