Ratusan Warga Ampenan Keluar dari Status Miskin Ekstrem
Mataram (NTBSatu) – Upaya penanggulangan kemiskinan ekstrem dan kesehatan di Kecamatan Ampenan, khususnya Kelurahan Bintaro, mulai menunjukkan hasil positif.
Camat Ampenan, Muzakir Walad mengatakan, angka kemiskinan ekstrem dan kasus stunting di wilayah tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan berdasarkan data verifikasi terbaru.
Muzakir menyebutkan, angka stunting di Bintaro yang sebelumnya tercatat sebanyak 40 orang, kini telah turun menjadi 26 orang.
Penurunan ini merupakan hasil dari program pendampingan intensif, di mana setiap satu kader bertanggung jawab mendampingi satu anak stunting. Sementara itu, untuk angka kemiskinan ekstrem, data penerima bantuan menunjukkan tren menurun.
“Dari data sebelumnya yang mencapai 1.800-1.900 jiwa, kini berkurang sekitar 300 hingga 400 orang setelah dilakukan proses kuratif dan verifikasi data tunggal (Regsosek),” ungkapnya, Jumat, 20 Februari 2026.
Validasi ini bertujuan untuk memastikan bantuan pemerintah jatuh ke tangan yang tepat. Proses verifikasi melibatkan lima tahapan penyandingan data untuk menyaring warga yang sudah tidak layak masuk kategori miskin ekstrem.
Tantangan Kemandirian Ekonomi
Meski data menunjukkan penurunan, Muzakir mengungkapkan tantangan terbesar saat ini adalah mengubah pola pikir masyarakat.
Kelurahan Bintaro merupakan wilayah dengan sektor perikanan yang produktif, di mana seorang nelayan bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp1,5 juta dalam sekali melaut.
Namun, perilaku konsumtif dan kurangnya manajemen keuangan rumah tangga seringkali membuat warga kembali jatuh ke dalam kesulitan ekonomi.
Selain itu, tingginya angka putus sekolah di tingkat SMP karena anak-anak lebih memilih langsung bekerja sebagai nelayan menjadi perhatian khusus pemerintah kecamatan.
“Kita perlu penguatan literasi keuangan keluarga. Uang ada, tapi manajemennya yang harus kita benahi agar kemiskinan ekstrem ini benar-benar tuntas,” tambah Muzakir. (*)



