Distribusi IFP Masif, NTB Fokus Kejar Kesenjangan Pemanfaatan
Mataram (NTBSatu) – Pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) atau papan tulis digital di sekolah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), masih menunjukan kesenjangan. Terlebih, di sekolah-sekolah wilayah pelosok di tengah distribusi masif.
Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi NTB, Dr. Wirman Kasmayadi, S.Pd., M.Si., membenarkan, optimalisasi penggunaan alat IFP belum merata di seluruh satuan pendidikan NTB.
“Memang dari data yang kami miliki sementara ini optimalisasi Interactive Flat Panel (IFP) belum merata di lembaga pendidikan di NTB. Terlebih untuk sekolah pelosok dan pedalaman,” ujarnya kepada NTBSatu, Jumat, 20 Februari 2026.
Menurut Wirman, sebagian guru telah memanfaatkan perangkat untuk eksplorasi pembelajaran digital. Namun, penggunaan langsung di kelas masih kurang.
Ia menjelaskan, kondisi itu karena kesiapan kompetensi guru, akses, serta dukungan ekosistem pembelajaran digital di sekolah dalam mengelola alat tersebut.
Sebagai tindakan, pihaknya bersama Badan Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) NTB dan dinas pendidikan daerah memperkuat pendampingan berjenjang. Termasuk, skema berbagi praktik baik antar guru juga menjadi strategi percepatan.
“Saat ini sedang bertahap, teman-teman guru yang sudah bagus didorong membantu sekolah yang belum. Termasuk, kelas daring yang masih kita lakukan salah satunya lewat laman daring Ruang GTK,” katanya.
Selain itu, BGTK NTB tengah menyiapkan pilihan konten pembelajaran digital agar perangkat yang telah sekolah terima dapat langsung dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar.
Meski masih terdapat sekolah pedalaman yang belum optimal, Wirman menilai banyak guru NTB telah memiliki kemampuan literasi digital yang baik.
“Memang di titik tertentu di sekolah pedalaman ada yang belum, tetapi banyak guru yang sudah cakap dalam literasi digital. Itu yang kita dorong,” katanya.
Ia menambahkan, sejak penerimaan perangkat terakhir pada Desember 2025 lalu, distribusi IFP tidak hanya menyasar sekolah formal, tetapi juga lembaga pendidikan nonformal.
“Tidak hanya sekolah formal. Oenerima PID/IFP ini juga dari sekolah nonformal yang memiliki paket C dan kelas pembelajaran setara sekolah formal,” tambahnya.
Penggunaan IFP di Sejumlah Sekolah Mataram
Berdasarkan pantauan NTBSatu di sejumlah sekolah di Kota Mataram menunjukkan, pemanfaatan IFP bervariasi. Misalnya, di SDN 26 Mataram, guru menggunakan perangkat secara aktif untuk pembelajaran di kelas,
“Semenjak ada PID/IFP siswa lebih termotivasi untuk belajar. Banyak fitur yang menarik yang bisa dipakai untuk belajar,” ujarnya Guru SDN 26 Mataram, Uswatun Hasanah.
Menurutnya, guru juga lebih mudah mencari sumber belajar. Biasanya harus menyiapkan video atau materi ajar terlebih dahulu, namun sekarang tinggal klik bisa terselesaikan.
Ia menambahkan, sekolah sempat mengikuti pelatihan penggunaan perangkat sebelum akhirnya mengadakan workshop internal.
“Dulu pernah ada pelatihan satu orang guru satu sekolah dipanggil ke BPMP untuk belajar penggunaan PID ini. Sekolah kami langsung mengadakan workshop terkait penggunaan PID ini,” jelasnya.
Berbeda dengan di SMPN 10 Mataram, pemanfaatan IFP masih terbatas sebagai penunjang aktivitas guru dan evaluasi pembelajaran. Termasuk, persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Kepala SMPN 10 Mataram, Chamim Tohari menyebut, sekolah telah memanfaatkan perangkat tetapi belum optimal. Sebab, keterbatasan alat dan kemampuan guru sehingga penggunaan perangkat masih bersifat insidental
“Di SMPN 10 Mataram kita sudah termanfaatkan, terutama untuk kelas tertentu guru. Awalnya kesulitan, tetapi sudah sering kami melakukan pelatihan, saat ini lumayan kemampuan guru kami,” katanya. (*)



