Kuliah Pakar Ummat, Prof. Oji dan Dr. Aka Bahas Etika Informasi di Era Digital
Mataram (NTBSatu) – Kualitas informasi publik menjadi tantangan penting bagi masyarakat modern, di tengah derasnya arus informasi digital yang semakin cepat dan tanpa batas. Dalam situasi tersebut, etika komunikasi dan kemampuan memverifikasi informasi menjadi fondasi utama untuk menjaga ruang publik yang sehat.
Isu tersebut mengemuka dalam kegiatan Kuliah Pakar dan Festival Ramadan 1447 Hijriah Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat), Kamis, 12 Maret 2026.
Kegiatan yang dirangkaikan dengan program Lentera Ramadan ini menghadirkan dua narasumber utama. Yakni, Pakar Komunikasi Dakwah, Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi, M.A., dan Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi NTB sekaligus Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, S.Sos., M.H.
Kuliah pakar tersebut diikuti oleh pimpinan universitas, dosen Fakultas Agama Islam, serta mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Tujuannya, sebagai bagian dari penguatan perspektif akademik di bidang komunikasi dakwah dan media digital.
Dalam pemaparannya, Prof. Fahrurrazi alias Prof. Oji menjelaskan, perkembangan teknologi komunikasi telah membawa perubahan besar dalam metode penyampaian dakwah. Jika sebelumnya dakwah lebih banyak berlangsung di ruang-ruang fisik seperti mimbar masjid atau majelis taklim, kini ruang digital menjadi medium baru yang sangat luas
Menurutnya, media sosial dan platform digital memungkinkan pesan keagamaan menjangkau masyarakat secara lebih luas dan lintas wilayah.
“Perkembangan media digital membuka peluang besar bagi dakwah Islam untuk menjangkau generasi muda. Namun, pesan dakwah tetap harus disampaikan dengan pendekatan yang bijak serta memperhatikan etika komunikasi,” ujarnya.
Ia menegaskan, literasi media menjadi kemampuan penting bagi para komunikator dakwah agar pesan yang disampaikan tidak sekadar viral. Tetapi juga, membawa nilai kebenaran dan kemaslahatan.
Soroti Tantangan Komunikasi Publik
Sementara itu, Dr. Ahsanul Khalik menyoroti tantangan komunikasi publik di era ledakan informasi. Dalam kondisi tersebut, hampir setiap individu dapat menjadi produsen informasi melalui media digital.
Menurutnya, perkembangan tersebut membawa dua sisi sekaligus: membuka peluang besar bagi penyebaran pengetahuan, namun juga menghadirkan risiko meningkatnya hoaks, manipulasi opini publik, serta polarisasi sosial.
“Perkembangan teknologi membuat informasi bergerak sangat cepat. Namun, kecepatan itu harus diimbangi dengan kualitas dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi,” jelasnya.
Dalam perspektif Islam, kata Aka -sapaan akrabnya-, komunikasi publik memiliki fondasi etika yang kuat melalui prinsip tabayyun. Yaitu, kewajiban memverifikasi informasi sebelum disebarkan kepada masyarakat.
Ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 yang menegaskan, pentingnya memeriksa kebenaran suatu berita agar tidak menimbulkan kesalahan informasi yang merugikan masyarakat
Menurutnya, prinsip tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat dengan praktik jurnalistik modern yang menekankan verifikasi fakta sebelum mempublikasikan sebuah informasi.
“Dalam tradisi keilmuan Islam, verifikasi informasi telah lama menjadi bagian penting dalam menjaga keabsahan pengetahuan. Terutama, dalam metodologi ilmu hadis yang mengembangkan sistem pengujian kredibilitas informasi secara sangat ketat. Ini menunjukkan etika informasi merupakan bagian dari fondasi peradaban,” tegasnya.
Tekankan Peran Strategis Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam
Dalam kesempatan tersebut, Aka juga menekankan peran strategis mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam sebagai generasi komunikator masa depan yang mampu memadukan kecakapan teknologi dengan integritas moral.
Mahasiswa, menurutnya, dapat mengambil peran sebagai agen literasi digital melalui produksi konten edukatif, dakwah digital. Serta, edukasi masyarakat mengenai pentingnya memverifikasi informasi di tengah arus media sosial.
Ia juga menilai, Nusa Tenggara Barat memiliki modal sosial keagamaan yang kuat untuk membangun komunikasi publik yang beretika di tengah transformasi digital.
“Masjid, pesantren, perguruan tinggi, serta komunitas media dapat menjadi pusat penguatan literasi informasi yang sehat bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui kegiatan kuliah pakar ini, harapannya mahasiswa tidak hanya memahami teori komunikasi dakwah. Tetapi juga, mampu menerapkan nilai-nilai etika komunikasi dalam praktik media digital di tengah dinamika perkembangan teknologi informasi.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi komunikasi pada akhirnya bukan sekedar aktivitas menyampaikan pesan. Tetapi juga, bagian dari tanggung jawab moral dalam menjaga kualitas informasi dan membangun peradaban komunikasi yang lebih beradab. (*)



