BPMP NTB, INOVASI, dan STKIP Taman Siswa Rancang Penguatan Pendidikan Karakter melalui Program ASLI BERADAB
“Proses penguatan karakter dimulai dari kebiasaan yang berpola, kemudian menjadi pembiasaan, hingga akhirnya mengkristal menjadi karakter,” Kepala BPMP NTB, Katman, S.Pd., M.A.
———————
Bima (NTBSatu) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP), memperkuat konsolidasi pendidikan karakter. Hal tersebut melalui rencana aksi sistemik guna membangun ekosistem sekolah yang aman dan beradab.
Dalam rapat konsolidasi “Rembuk Penguatan Pendidikan Karakter’” tersebut, STKIP Taman Siswa Bima secara resmi menawarkan program unggulan ASLI BERADAB sebagai model integrasi pendidikan tinggi dan sekolah dasar.
Langkah ini menjadi krusial di tengah kompleksitas tantangan generasi Gen Z, termasuk penurunan pemahaman budaya lokal dan rendahnya resiliensi sosial.
Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari prioritas nasional yang mencakup program Wajib Belajar 13 Tahun, peningkatan kesejahteraan guru. Sert, penguatan sarana dan prasarana pendidikan secara menyeluruh.
Kepala BPMP NTB, Katman, S.Pd., M.A., menegaskan, pembangunan karakter tidak dapat secara instan. Melainkan melalui penciptaan kebiasaan yang berulang secara konsisten di lingkungan sekolah.
Ia menyoroti, pentingnya Surat Edaran Bersama terkait budaya sekolah aman dan optimalisasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sebagai fondasi utama.
“Proses penguatan karakter dimulai dari kebiasaan yang berpola, kemudian menjadi pembiasaan, hingga akhirnya mengkristal menjadi karakter. Tantangan di masyarakat harus ditarik ke dalam konteks pengajaran, agar siswa memiliki ketahanan berpikir dan hubungan sosial yang kuat,” ujar Katman.
Dalam kerangka kolaborasi ini, Kepala BPMP NTB juga mendorong sekolah untuk mengadopsi pembelajaran mendalam (deep learning). Tujuannya, untuk mengatasi kesulitan dalam mendesain materi yang berbasis berpikir kritis (critical thinking).
Fokus utama saat ini adalah pembenahan sistem melalui delapan program pemerintah, termasuk peningkatan resiliensi pada siswa.
Jadi Aktor Percepatan
Sejalan dengan visi tersebut, Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr. H. Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si., memaparkan kesiapan institusinya untuk menjadi aktor percepatan perubahan melalui program ASLI BERADAB.
Sejak 2015, Tamsis telah memposisikan diri sebagai perguruan tinggi dengan fokus perhatian pada penguatan literasi, karakter, dan lingkungan hidup. Program tersebut kini didukung oleh 15 doktor aktif dan pembukaan program studi S2 Pedagogi pertama di Kabupaten Bima.
Ketua STKIP Tamsis Bima menyatakan, institusinya telah terpilih sebagai pilot project untuk pengembangan mata kuliah pendidikan karakter oleh pihak INOVASI.
“Kami sudah membangun ekosistem dan layanan digitalisasi. Termasuk peningkatan kemampuan berbicara publik dan pengelolaan perpustakaan digital, yang siap diimplementasikan untuk mendukung sekolah-sekolah di lapangan,” ungkapnya.
Implementasi di tingkat satuan pendidikan mulai menunjukkan kesiapan teknis. Asikin, perwakilan SDN 15 Sarae Kota Bima, menyatakan komitmennya untuk menerapkan materi pendidikan karakter dan digitalisasi.
Sementara itu, Wahida dari SDN Inpres 2 Tangga menyoroti kebutuhan akan guru muda yang menguasai teknologi informasi di tengah tantangan lingkungan sosial yang minim nilai karakter.
Namun, tantangan inklusivitas dan kapasitas tenaga pendidik masih menjadi isu strategis. Mariam dari SDN 03 Tente mengemukakan, kendala sekolah dalam menangani siswa inklusif karena keterbatasan kompetensi guru.
Merespons hal tersebut, otoritas terkait menekankan sekolah tetap wajib menerima siswa berkebutuhan khusus, guna memberikan pembinaan khusus dan kesetaraan akses pendidikan.
Sebagai langkah konkret untuk menjamin keberlanjutan program, tim institusi khusus telah terbentuk dengan ketua Kaprodi PGSD STKIP Taman Siswa Bima.
Tim tersebut nantinya akan bertugas untuk menyusun rincian implementasi lapangan dari Gerakan 7 Kebiasaan. Fokus awal, pada empat kebiasaan utama yang penerapannya akan secara kolaboratif antara sekolah dan perguruan tinggi. (*)



