Ampenan Selatan Perkuat Kolaborasi Data lewat “Kelurahan Cantik”
Mataram (NTBSatu) – Kelurahan Ampenan Selatan, Kecamatan Ampenan, resmi terpilih sebagai salah satu representasi dalam program Kelurahan Cinta Statistik (Kelurahan Cantik) yang diinisiasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Program ini bertujuan untuk menyelaraskan pendataan statistik pusat dengan kebutuhan riil data di tingkat kelurahan guna mengoptimalkan pelayanan publik.
Lurah Ampenan Selatan, Erma Suryani, menjelaskan kolaborasi ini sangat penting karena kelurahan merupakan garda terdepan dalam pelayanan masyarakat.
Menurutnya, pelayanan yang prima harus bermula dari pemenuhan data yang akurat dan sesuai dengan kondisi lapangan.
“Kami di kelurahan sudah memiliki data primer dari pendataan keluarga. Nantinya, data ini akan kami kolaborasikan secara lintas sektoral, baik itu data kemiskinan ekstrem dari Dinas Sosial maupun data dari BPS sendiri,” ujar Erma pada NTBSatu, Selasa, 21 April 2026.
Salah satu instrumen data yang menjadi perhatian utama dalam program Kelurahan Cantik ini adalah pemetaan kelompok umur, pendidikan, dan khususnya data kemiskinan.
Erma mengakui, isu kemiskinan adalah hal yang sensitif, sehingga perlu skema pembaruan data yang dinamis.
Berdasarkan data terbaru, jumlah masyarakat dalam kategori kemiskinan ekstrem di Ampenan Selatan tercatat sekitar 700-an jiwa. Angka ini menunjukkan tren penurunan, namun Erma menekankan pentingnya verifikasi berkala agar bantuan atau program pemerintah tepat sasaran.
Terpilihnya Ampenan Selatan dalam program Kelurahan Cantik tahun ini berdasarkan beberapa pertimbangan BPS, di antaranya.
Ketersediaan personel dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Kesiapan data dukung yang ada di kelurahan. Dan Administrasi yang tertata dengan baik.
Erma berharap program-program yang dicanangkan pemerintah dapat didukung penuh oleh partisipasi aktif masyarakat agar data yang dihasilkan benar-benar valid.
“Sebagus apa pun program pemerintah, jika tidak ada dukungan dan keterlibatan langsung dari masyarakat sebagai subjek sekaligus evaluator, maka manfaatnya tidak akan maksimal. Masyarakat harus merasa memiliki program tersebut karena mereka yang merasakan dampaknya langsung,” pungkasnya. (*)



