TPA Raberas Penuh dan Armada Menua Jadi Alarm Krisis Sampah Sumbawa
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Persoalan sampah di Kabupaten Sumbawa memasuki fase kritis. Di tengah Ramadan yang biasanya memicu lonjakan volume sampah, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Raberas disebut telah melewati kapasitas maksimal sejak 2021. Di sisi lain, jumlah tenaga dan armada pengangkut kian terbatas.
Kepala UPT Persampahan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa, Yul Khaidir mengakui, tidak ada strategi khusus menghadapi peningkatan sampah selama Ramadan tahun ini.
“Untuk penanganan sampah Ramadan sebenarnya tidak ada strategi khusus. Tetap seperti rutin biasa,” ujar Yul Khaidir, Kamis, 19 Februari 2026.
Saat ini, pengangkutan sampah berlangsung sekitar 22 ritase per hari menggunakan 13 dump truck dan 5 arm roll. Selain itu, tersedia sekitar 14 kontainer untuk mendukung operasional.
Namun, persoalan muncul pada keterbatasan tenaga kerja. Dari sebelumnya 102 buruh truk, kini tersisa 68 orang setelah 48 tenaga kontrak tidak diperpanjang.
“Tenaga kita berkurang cukup banyak. Buruh truk yang dulu 102 orang sekarang tinggal 68. Ada yang sampai dua kali naik, bahkan tiga kali kalau ada kendala,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan, setiap Ramadan volume sampah justru meningkat dari hari biasa. Biasanya, terdapat tambahan satu ritasi pengangkutan pada sore hari untuk mengimbangi lonjakan tersebut.
“Kalau puasa biasanya volume sampah meningkat. Biasanya ada tambahan satu ritase di sore hari,” katanya.
Karena keterbatasan tenaga dan kondisi TPA yang semakin penuh, pihaknya meminta masyarakat ikut berperan aktif dengan memilah sampah dan membatasi jenis sampah yang dibuang.
“Kami minta masyarakat pilah sampah. Fokus pada sampah rumah tangga. Jangan masukkan tebangan, puing bangunan, atau bekas kandang ternak ke TPS,” tegasnya.
Ia menyarankan, agar sampah yang tidak mudah membusuk disimpan sementara untuk mengurangi volume. “Kalau sampah tidak busuk bisa disimpan 3–4 hari. Biasanya volumenya bisa turun sampai setengahnya,” jelasnya.
Kondisi Memprihatinkan
Kondisi paling memprihatinkan terjadi di TPA Raberas yang dibangun pada 2011, dengan proyeksi daya tampung 60 ton per hari dan umur rencana 10 tahun. Artinya, sejak 2021 seharusnya sudah dilakukan relokasi atau pembangunan TPA pendamping.
“TPA Raberas itu sudah overload. Tanah untuk penutup saja sudah hampir tidak ada,” ungkapnya.
Menurutnya, opsi tetap menggunakan Raberas memungkinkan, namun dengan biaya jauh lebih besar karena harus menerapkan sistem sanitary landfill berbentuk gunungan dengan kebutuhan tanah uruk yang besar.
“Kalau tetap di Raberas, biayanya lebih tinggi. Harus sanitary landfill, butuh alat berat tambahan, dan tanah penutup yang memadai. Sekarang tanahnya sudah sulit,” tambahnya.
Saat ini, pihaknya telah mengusulkan relokasi TPA kepada Bupati Jarot. Namun, lokasi baru masih dalam tahap pencarian dan kajian.
“Sudah diusulkan untuk relokasi. Memang harus segera dicarikan solusi,” pungkasnya.
Meski sarana prasarana dinilai masih cukup untuk pelayanan rutin di wilayah Sumbawa, Labuhan Badas, dan Unter Iwes, Yul Khaidir mengingatkan tanpa pembaruan armada dan relokasi TPA, persoalan sampah berpotensi menjadi krisis lingkungan serius dalam waktu dekat.
“Armada kita ada 18 unit, tetapi beberapa sudah di bawah tahun 2000, bahkan ada yang tahun 1998. Masih berfungsi, tapi boleh dibilang sudah sekarat,” tutupnya. (Marwah)



