Kue Kerake Kelayu, Warisan Kuliner yang Kian Sulit Ditemukan
Lombok Timur (NTBSatu) – Dulu, masyarakat bisa menemukan kue kerake di hampir setiap sudut Kelurahan Kelayu, Kecamatan Selong, Lombok Timur. Beberapa warga bahkan membuka toko khusus yang menjual jajanan tradisional tersebut. Kini, hanya segelintir orang yang masih mempertahankan pembuatannya.
Fitriah menjadi salah satunya. Ia meneruskan usaha yang telah ibunya jalankan sejak puluhan tahun lalu. Selama lebih dari empat tahun terakhir, Fitriah rutin membuat kue kerake untuk memenuhi pesanan pelanggan sekaligus menjaga warisan kuliner khas Kelayu.
“Ini sudah dari ibu saya. Saya hanya meneruskan,” ujarnya, Selasa, 28 Juli 2026.
Kue kerake merupakan jajanan tradisional berbahan ketan, gula merah, dan santan. Perpaduan ketiga bahan itu menghasilkan cita rasa manis, legit, dan gurih dengan tekstur padat yang sekilas menyerupai jenang atau dodol.
Keunikan kue kerake tidak hanya terletak pada rasanya. Bungkusnya juga menjadi ciri khas yang langsung dikenali masyarakat. Dulu, para pembuat menggunakan pelepah pinang sebagai pembungkus. Z
Dari Pelepah Pinang ke Kulit Jagung
Kini, mereka beralih memakai kulit jagung karena pelepah pinang semakin sulit diperoleh. Meski begitu, pergantian pembungkus tersebut tidak mengubah cita rasa kue kerake.
Fitriah memulai proses pembuatan kue kerake dengan mencuci ketan hingga bersih. Setelah itu, ia mengeringkan dan menyangrai ketan selama lebih dari satu jam. Selama proses itu, ia terus mengaduk ketan sedikit demi sedikit agar hasil sangrai tetap renyah.
“Kalau terlalu banyak saat disangrai, hasilnya tidak renyah,” katanya.
Dulu, keluarga Fitriah menyangrai ketan menggunakan tungku kayu. Kini, ia memanfaatkan kompor gas agar proses memasak lebih praktis. Namun, menurutnya, tungku kayu tetap menghasilkan aroma yang lebih harum.
Setelah selesai menyangrai, Fitriah menumbuk ketan hingga halus. Ia kemudian mencampurnya dengan gula merah dan santan sebelum membungkus adonan menggunakan kulit jagung. Terakhir, ia mengikat setiap bungkus dengan tali sebelum menjualnya.
Deretan kerake yang tersusun rapi di atas tampah langsung mencuri perhatian. Bungkus kulit jagung yang mengikat rapat kedua ujungnya membuat jajanan tradisional itu sekilas menyerupai pocong berukuran mini.
Bentuknya memang sederhana, tetapi justru menjadi ciri khas yang membedakan kerake dari jajanan tradisional lain di Lombok Timur.
Penopang Ekonomi Keluarga
Usaha membuat kue kerake ikut menopang perekonomian keluarga Fitriah. Hasil penjualannya membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus membiayai pendidikan kedua anaknya.
“Alhamdulillah bisa buat anak sekolah. Ada yang kuliah satu, ada yang masih SMA. Bisa beli buku dan kebutuhan lainnya,” tuturnya.
Di balik penjualan yang tetap stabil, Fitriah menghadapi tantangan mencari kulit jagung sebagai pembungkus. Ia kerap berkeliling ke pasar-pasar besar untuk mendapatkan bahan tersebut karena tidak semua pedagang menjualnya.
“Kalau tidak ada kulit jagung, kami tidak bisa membungkus kue kerake. Itu yang paling sulit dicari,” katanya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Fitriah tetap mempertahankan usaha itu. Ia bahkan hanya menaikkan harga jual kue kerake dari Rp2.000 menjadi Rp2.500 per bungkus selama bertahun-tahun.
Di tangan Fitriah, kue kerake bukan sekadar jajanan tradisional. Setiap bungkus yang ia buat membawa cerita tentang ketekunan, warisan keluarga, dan upaya menjaga salah satu kuliner khas Kelayu agar tetap bertahan di tengah perubahan zaman. (*)




