Kota BimaPariwisata

Tim Museum Samparaja Tinjau Prasasti Wadu Tunti, Bukti Akulturasi Jawa-Bima

Kota Bima (NTBSatu) – Tim Museum Samparaja Bima menggelar peninjauan lapangan ke situs Prasasti Wadu Tunti di Desa Padende, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima. Selain memantau kondisi fisik cagar budaya di ketinggian 648 mdpl tersebut, tim berhasil membedah jejak akulturasi kuat antara budaya Jawa Kuno dan peradaban Bima.

Salah seorang cucu Sultan Muhammad Salahuddin, yang juga merupakan Kepala Museum Samparaja Bima, Dewi Ratna Muchlisa menyatakan, prasasti sembilan baris beraksara dan berbahasa Jawa Kuno ini menjadi bukti tertulis pertama yang mencatat nama wilayah Sapalu serta sebutan Sangaji bagi sang raja. 

Gelar ini kemudian diserap menjadi Ruma Sangaji dalam struktur Kesultanan Bima. “Prasasti Wadu Tunti menunjukkan penamaan awal gelar Sangaji bagi raja, persis seperti penyebutan pimpinan Kerajaan dan Kesultanan Bima,” ujar Dewi, Selasa, 28 Juli 2026.

IKLAN

Bukti perpaduan budaya makin terlihat pada relief di sisi kiri. Prasasti yang menampilkan figur empat punokawan khas Jawa, sosok anjing, serta sesosok perempuan. 

Tim mengidentifikasi figur perempuan tersebut sebagai Putri Ratna Lila, yang dalam silsilah lokal menikah dengan tokoh bernama Manggampo Jawa.

“Setelah Manggampo Jawa moksa tanpa keturunan. Putri Ratna Lila kembali memimpin Bima dan mengadopsi struktur pemerintahan adat Jawa, seperti Bhumi, Jena, Tureli, hingga Bhjangkara,” jelasnya. 

Sistem akulturasi adat ini bertahan hingga kepemimpinan Sultan Bima terakhir, Sultan Muhammad Salahuddin.

Dari hasil pengamatan fisik, tim memberikan apresiasi tinggi kepada warga lokal yang menjaga keutuhan batu bersejarah di tepi jurang tersebut.

“Saya sangat bahagia masyarakat Padende tidak merusak atau mengganggu situs ini. Alhamdulillah tidak ada vandalisme dan situs ini masih tergolong aman,” tuturnya.

Dewi juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian hutan di kawasan Donggo agar penyerapan air dan perlindungan situs tetap terjaga.

“Saya berharap alam Padende tetap terjaga. Tidak menebang pohon di hutan, hanya untuk menanam jagung. Donggo adalah paru-paru Bima yang menyimpan bukti nyata peradaban maju,” tegasnya. (*)

Artikel Terkait