Mataram (NTBSatu) – Penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB menuai sorotan tajam, setelah rentetan polemik dan protes kontingen dari sejumlah Cabang Olahraga (cabor) utama.
Alih-alih sebagai panggung murni pembinaan atlet, ajang terbesar di tingkat provinsi ini justru menyisakan catatan merah. Hal ini akibat kurangnya manajemen pertandingan dan keterbukaan informasi publik.
Menanggapi hal tersebut, Ketua KONI NTB, Mori Hanafi, meminta seluruh kontingen menjaga sportivitas. Ia mengingatkan agar seluruh polemik yang ada tidak mengaburkan tujuan utama Porprov sebagai ajang persaudaraan dan membangun prestasi olahraga daerah.
“Kompetisi yang ketat pasti melahirkan tensi yang tinggi. Kompetisi yang ketat pasti melahirkan tensi yang tinggi,” ujar Mori pada Minggu, 19 Juli 2026.
Polemik Cabang Sepak Bola
Kericuhan di lapangan hijau merupakan salah satu noktah merah paling fatal dalam ajang ini. Kericuhan hebat pecah pada laga yang mempertemukan tim Kota Bima melawan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).
Insiden ini bermula dari perselisihan fisik atarpemain di dekat area kotak penalti, yang selanjutnya memicu aksi saling dorong dan baku pukul di tengah pertandingan. Situasi panas tersebut memaksa ofisial tim dan aparat keamanan segera turun ke lapangan untuk melerai massa dan mengevakuasi pemain.
Polemik Cabang Drumben
Persoalan tidak kalah sengit berlangsung pada cabang olahraga drumben. Kontingen daerah melayangkan protes resmi karena menilai sistem penilaian juri tidak transparan dan berjalan subjektif.
Gelombang protes resmi dilayangkan secara kontingen Kota Bima. Ia memprotes objektivitas juri setelah menganggap hasil nilai menguntungkan salah satu kubu secara sepihak.
Kisruh drumben ini pecah karena adanya dugaan perubahan hasil peringkat juara secara mendadak. Hal ini yang membuat kontingen Kota Bima melakukan protes terbuka dan menuntut ketua KONI NTB mengusut transparansi nilai juri.
Polemik Cabang Tinju
Suasana panas juga menjalar hingga ke ring tinju akibat ketidakpuasan terhadap hasil penilaian. Kontingen dari Lombok Tengah melayangkan protes keras saat berhadapan dengan kontingen Kabupaten Sumbawa pada babak krusial.
Kubu Lombok Tengah mempertanyakan objektivitas dan akurasi keputusan hakim dalam menentukan kemenangan angka yang mereka nilai tidak adil. Hasil tersebut dianggap merugikan petinju mereka yang telah tampil maksimal.
Polemik Cabang Voli
Sementara pada cabang voli, sengketa keputusan wasit memicu protes keras dalam lomba antara kontingen Lombok Barat dan Kabupaten Dompu.
Wasit memberikan poin krusial kepada Lombok Barat setelah menilai pemain Dompu melakukan pelanggaran holding. Keputusan tersebut langsung mendapat keberatan dari tim Dompu yang merasa tidak ada pelanggaran.
Oleh karena itu, protes ini memperpanjang daftar masalah teknis, termasuk keluhan atas fasilitas lapangan yang kurang representatif bagi standar kenyamanan atlet.
Polemik Minimnya Informasi Media Sosial
Di luar urusan teknis arena, masyarakat dan pecinta olahraga mengecam kelalaian tim publikasi KONI NTB dalam gelaran Porprov. Selama gelaran berlangsung, akun media sosial resmi mereka terkesan mati suri tanpa ada pembaruan informasi secara berkala.
Ketiadaan data harian mengenai perolehan medali, jadwal pertandingan yang valid, lokasi, hingga suasana lomba menyulitkan masyarakat memantau perkembangan kompetisi secara langsung. (*)




