Lombok TimurPendidikan

Sekolah Rakyat Lombok Timur Tegaskan Tak Ada Jalur Titipan saat Penerimaan Siswa

Lombok Timur (NTBSatu) – Sekolah Rakyat Dasar (SRD) Tiga Lombok Timur menegaskan, proses penerimaan peserta didik baru berlangsung tanpa jalur titipan. Sekolah hanya menerima anak dari keluarga miskin ekstrem dan miskin yang memenuhi kriteria pemerintah.

Kepala SRD Tiga Lombok Timur, Marisa Apnika mengatakan, sekolah tidak membuka pendaftaran secara umum. Tim pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) melakukan penjangkauan langsung kepada calon siswa berdasarkan data kesejahteraan sosial.

“Tidak ada open recruitment untuk kami. Pendamping PKH yang turun melakukan penjangkauan dan verifikasi,” ujarnya, Kamis, 16 Juli 2026.

IKLAN

Pendamping kemudian memastikan kondisi ekonomi calon siswa, sesuai dengan data di lapangan.

Sekolah hanya menerima anak yang masuk kategori desil 1 dan desil 2 atau keluarga miskin ekstrem dan miskin.

Marisa menegaskan, pihaknya tidak memberi ruang bagi praktik titipan, meski berasal dari orang yang dikenal.

IKLAN

“Tidak boleh ada titipan walaupun kita saling kenal,” tegasnya.

Menurutnya, kebijakan tersebut bertujuan, agar program Sekolah Rakyat benar-benar menyasar anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan.

Karena itu, setiap calon siswa harus melewati proses verifikasi sebelum diterima.

Meski begitu, proses penjangkauan tidak selalu berjalan mulus. Marisa mengaku, kerap menemukan orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di SR, tetapi, sang anak belum bersedia tinggal di asrama.

Sebaliknya, ada pula anak yang ingin bersekolah, namun belum mendapat persetujuan dari orang tuanya.

“Takutnya nanti anaknya tidak betah lalu kabur. Itu yang kami antisipasi,” ujarnya.

Kondisi Keluarga Siswa

Menurut Marisa, sebagian besar siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga rentan dan memiliki risiko putus sekolah.

Kondisi tersebut membuat guru dan pendamping tidak hanya berperan sebagai tenaga pendidik, tetapi juga memberikan pendampingan, agar siswa mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.

Ia mengaku, lebih memilih memikirkan cara membuat siswa merasa nyaman, daripada mempersoalkan tantangan yang dihadapi selama memimpin sekolah.

“Yang saya pikirkan bagaimana anak-anak ini bisa senang di sini, fokus belajar, dan berkembang,” katanya.

Marisa menambahkan, seluruh guru, wali asrama, dan pendamping berkomitmen mendampingi siswa hingga mampu meraih prestasi.

Ia berharap, Sekolah Rakyat menjadi ruang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, untuk memperoleh pendidikan yang layak sekaligus kesempatan memperbaiki masa depan mereka.

“SR ini harus bisa maju. Anak-anak ini harus berprestasi dan menjadi lebih baik dari sebelumnya,” tutupnya. (*)

Artikel Terkait