Ketika Impian akan Indonesia Emas Bertemu Realita 74 Kilogram Emas
Oleh: Adi Prayuda – Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIZAR
Indonesia memiliki sebuah cita-cita besar: Indonesia Emas 2045. Sebuah visi agar tepat satu abad setelah kemerdekaan, negeri ini menjadi negara maju, sejahtera, berdaya saing, dan dihormati dunia. Kata emas dipilih tentu bukan tanpa alasan. Emas melambangkan sesuatu yang bernilai, langka, dan menjadi tujuan yang ingin dicapai bersama.
Namun, beberapa hari terakhir, publik justru disuguhi ironi yang sulit diabaikan.
Ketika kita sedang berbicara tentang Indonesia Emas, pemberitaan nasional dipenuhi kabar mengenai penyitaan uang miliaran rupiah dan 74 kilogram emas dalam perkara dugaan korupsi. Dengan harga emas saat ini sekitar Rp 2,65 juta per gram, jumlah tersebut diperkirakan bernilai sekitar Rp196 miliar. Nilai yang nyaris menyentuh Rp 200 miliar itu tentu membuat siapapun menggelengkan kepala.
Kita bermimpi tentang Indonesia Emas. Ironisnya, yang lebih dahulu hadir di hadapan publik justru 74 kilogram emas sebagai barang bukti.
Tentu, keduanya tidak dapat disamakan. Yang satu adalah visi kebangsaan yang patut diperjuangkan, sementara yang lain merupakan bagian dari proses penegakan hukum yang harus dihormati. Namun, ironi itu tetap menyisakan satu pertanyaan penting: apakah perjalanan menuju Indonesia Emas hanya cukup dibangun dengan target-target pembangunan, atau juga harus ditopang oleh integritas yang tidak bisa ditawar?
Sebagai seseorang yang mempelajari marketing, khususnya mindful marketing, saya melihat Indonesia Emas bukan hanya sebuah visi pembangunan, tetapi juga sebuah upaya membangun merek bangsa (nation brand). Dalam dunia pemasaran, merek yang kuat bukan dibangun oleh slogan yang indah, melainkan oleh pengalaman yang konsisten.
Sebuah perusahaan boleh mengiklankan dirinya sebagai yang paling terpercaya. Namun, bila pengalaman konsumennya justru dipenuhi kekecewaan, lambat laun masyarakat akan berhenti percaya. Kepercayaan tidak dibentuk oleh kata-kata, tetapi oleh perilaku yang terus berulang.
Prinsip yang sama berlaku bagi sebuah negara. Indonesia Emas adalah narasi yang mampu membangkitkan optimisme. Kita membutuhkannya sebagai arah bersama. Namun, masyarakat juga membutuhkan bukti bahwa optimisme itu memiliki pijakan yang nyata. Bahwa hukum benar-benar ditegakkan tanpa pandang bulu. Bahwa jabatan dipahami sebagai amanah, bukan sebagai kesempatan. Bahwa pelayanan publik terus membaik. Bahwa integritas tidak hanya menjadi materi dalam pelatihan, tetapi menjadi budaya dalam penyelenggaraan negara.
Dalam mindful marketing, terdapat konsep trust gap, yaitu jarak antara apa yang dijanjikan dengan apa yang benar-benar dirasakan. Semakin kecil jaraknya, semakin tinggi kepercayaan. Sebaliknya, ketika narasi semakin megah tetapi pengalaman masyarakat tidak banyak berubah, yang tumbuh bukan lagi harapan, melainkan keraguan.
Di sinilah saya melihat bahwa Indonesia Emas bukan sekadar program pembangunan. Indonesia Emas adalah ujian besar tentang kemampuan kita menjaga kepercayaan publik.
Sebab masyarakat tidak hidup dari slogan. Masyarakat hidup dari pengalaman.
Tidak ada kampanye komunikasi yang mampu menggantikan kejujuran. Tidak ada baliho yang mampu menggantikan integritas. Dan tidak ada pidato yang mampu menggantikan keteladanan.
Karena itu, pemberitaan mengenai penyitaan aset dalam perkara dugaan korupsi semestinya tidak hanya berhenti sebagai berita yang mengundang rasa penasaran, tapi perlu menjadi cermin bagi kita semua. Sebab setiap kasus seperti ini bukan hanya menguji aparat penegak hukum, tetapi juga menguji seberapa kuat fondasi kepercayaan yang sedang kita bangun sebagai bangsa.
Di sisi lain, kita juga patut mengapresiasi bahwa proses penegakan hukum terus berjalan. Tugas aparat penegak hukum bukanlah pekerjaan yang ringan, apalagi ketika berhadapan dengan perkara-perkara besar yang menyangkut kepentingan publik. Harapan kita tentu sederhana: setiap proses dilakukan secara profesional, transparan, dan menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah, sehingga keadilan benar-benar dapat ditegakkan.
Mindfulness mengajarkan kita untuk melihat kenyataan sebagaimana adanya. Tidak menutup mata terhadap persoalan, tetapi juga tidak kehilangan harapan. Optimisme bukan berarti menganggap semuanya baik-baik saja. Optimisme adalah keberanian untuk mengakui bahwa masih ada banyak pekerjaan rumah, lalu memilih untuk tetap memperbaikinya.
Indonesia Emas bukanlah hadiah yang datang dengan sendirinya, tapi harus diperjuangkan setiap hari, bukan hanya melalui pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga melalui keputusan-keputusan kecil yang menjaga integritas.
Kita semua sebenarnya sulit untuk tidak sepakat bahwa bangsa yang benar-benar emas bukanlah bangsa yang memiliki emas paling banyak. Bangsa yang benar-benar emas adalah bangsa yang mampu menjaga sesuatu yang nilainya jauh melampaui emas itu sendiri: kepercayaan. (*)




