Bahasa Daerah Jadi Magnet Pariwisata NTB, Balai Bahasa Dorong Literasi Desa Wisata
Mataram (NTBSatu) – Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), terus mendorong literasi dan pelestarian bahasa daerah sebagai strategi memperkuat sektor pariwisata.
Program-program ini menekankan pentingnya bahasa lokal, untuk menciptakan pengalaman wisata yang autentik dan berkesan bagi pengunjung.
Plt. Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Zamzam Hariro, M.Pd., menjelaskan, bahasa daerah bukan hanya aset budaya, tetapi juga daya tarik wisata tersendiri.
“Orang asing datang bukan mencari bahasa Inggris yang sempurna. Tetapi jika kita menulis ‘Selamat Datang’ atau bahasa daerah seperti ‘Silaq’, mereka akan bertanya artinya. Itulah hospitality (keramahan, red) yang sebenarnya,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 1 April 2026.
Zamzam menegaskan, Balai Bahasa NTB menjadikan pelestarian bahasa daerah sebagai prinsip utama.
“Jangan sampai bahasa daerah hilang. Justru itu daya tarik wisata yang autentik. Di Gili Trawangan, banyak investor asing mempelajari bahasa daerah karena mereka tahu cara terbaik untuk menyatu dengan masyarakat dan budaya lokal,” ujarnya.
Dewisali: Cerita Lokal untuk Wisatawan
Salah satu program unggulan adalah Desa Wisata Literasi (Dewisali). Balai Bahasa mendampingi desa-desa wisata menyusun buku cerita atau legenda setempat dalam tiga bahasa: Indonesia, bahasa daerah, dan Inggris.
“Di Desa Wisata Bilebante, kami mencetak buku tentang legenda desa dalam tiga bahasa. Tujuannya supaya wisatawan tidak hanya melihat objek fisik, seperti batu besar atau pohon tua, tetapi juga memahami cerita dan nilai sejarah di baliknya,” jelasnya.
Mandalika Bumi: Pelatihan Bahasa bagi Pelaku Wisata
Program lain, Mandalika BIPA untuk Masyarakat Inovatif (BUMI), menyasar masyarakat di sekitar desa wisata. Balai Bahasa memberikan pelatihan bahasa praktis bagi pelaku wisata melalui Handy Words, alat komunikasi berupa stiker, flipchart, atau spanduk berisi ungkapan praktis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
“Alat ini memudahkan warga menyapa turis, memberitahu harga, atau menunjukkan arah penginapan, meski mereka tidak fasih bahasa Inggris secara akademik,” kata Zamzam.
Balai Bahasa menyesuaikan materi pelatihan dengan potensi masing-masing desa. Di Sekotong, Lombok Barat, warga dilatih membuat teks deskriptif untuk mempromosikan pantai di media sosial.
Di Desa Santong, Lombok Timur, pengrajin rotan dan lontar belajar membuat teks prosedur. Hal ini agar mereka mampu menjelaskan proses pembuatan kerajinan kepada wisatawan.
Kemudian, di Sembalun, Lombok Timur, Balai Bahasa mengajarkan warga membuat teks narasi. Tujuannya, agar mereka bisa menceritakan legenda Dewi Anjani dan sejarah Gunung Rinjani kepada pendaki dan wisatawan.
Zamzam mengatakan, literasi dan bahasa baik bahasa Indonesia maupun bahasa daerah membentuk pondasi kuat bagi pariwisata di NTB. Wisatawan tidak hanya tertarik pada objek fisik, tetapi juga ingin merasakan budaya lokal melalui bahasa dan cerita yang disajikan.
“Melalui program-program ini, kami berharap desa wisata menjadi tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kaya cerita, budaya dan pengalaman interaktif bagi wisatawan,” tutupnya. (*)



